Senin 30 Aug 2021 11:12 WIB

Korut Dilaporkan Kembali Aktifkan Reaktor Nuklir

IAEA memantau nuklir Korut dari jauh, sebagian besar lewat citra satelit

Rep: Puti Almas/Antara/ Red: Christiyaningsih
Ilustrasi reaktor nuklir. IAEA memantau nuklir Korut dari jauh, sebagian besar lewat citra satelit.
Foto: AP/Mary Ann Chastain
Ilustrasi reaktor nuklir. IAEA memantau nuklir Korut dari jauh, sebagian besar lewat citra satelit.

REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG — Korea Utara (Korut) dilaporkan memulai kembali reaktor pemrosesan ulang penghasil plutonium dalam reaktor nuklir. Hal ini dilaporkan oleh badan PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA), di mana langkah tersebut dikatakan sebagai sebuah tanda potensi Pyongyang sedang berusaha memperluas program senjata nuklir.

IAEA kini memantau Korut dari jauh, sebagian besar lewat citra satelit. IAEA menerbitkan laporan tahunan yang diunggah secara daring tanpa pengumuman sebelum menggelar pertemuan dengan negara-negara anggotanya. Laporan terakhir diterbitkan pada Jumat.

Baca Juga

Pengembangan reaktor lima megawatt di Yongbon, sebuah area kompleks nuklir utama di Korut, sebelumnya sempat terhenti menyusul pembicaraan yang dilakukan dengan Amerika Serikat (AS) tidak menemui kesepakatan. Pemimpin Korut Kim Jong-un menawarkan untuk membongkar bagian dari area itu saat pertemuan kedua dengan mantan presiden AS Donald Trump dengan syarat pengurangan sanksi internasional diberikan.

Meski demikian, tawaran tersebut ditolak. Kondisi itu membuat kesepakatan antara Korut dan AS tidak tercapai dan memundurkan kesepakatan tentang denuklirisasi di wilayah Semenanjung Korea. Korut masih berada di bawah serangkaian sanksi internasional atas pengembangan senjata nuklir dan program rudal balistik.

“Sejak awal Juli sudah ada indikasi (pengembangan), termasuk keluarnya air pendingin, yang konsisten dengan pengoperasian reaktor,” ujar Badan Tenaga Atom Internasional dalam laporan tahunan yang dikutip pada Senin (30/8).

Menurut laporan tersebut, reaktor Yongbyon tampaknya tidak aktif dari Desember 2018 hingga tiba-tiba terlihat adanya tanda-tanda aktivitas pada Juli. Inspektur IAEA tidak diizinkan berada di Korut mulai 2009 dan sejak saat itu badan PBB tersebut melakukan pemantauan dari luar.

Kemungkinan pengoperasian reaktor tersebut mengikuti indikasi baru-baru ini bahwa Korut juga menggunakan laboratorium radiokimia untuk memisahkan plutonium dari bahan bakar bekas yang sebelumnya dikeluarkan dari reaktor. IAEA mengatakan tanda-tanda operasi reaktor dan laboratorium sangat meresahkan. Menurut IAEA kegiatan tersebut merupakan pelanggaran yang jelas terhadap resolusi PBB.

Yongbyon adalah rumah bagi reaktor nuklir pertama negara itu dan merupakan satu-satunya sumber plutonium yang diketahui untuk program senjata Korut. Wilayah ini terletak sekitar 100 kilometer (60 mil) di utara Pyongyang.

Yongbyon tidak diyakini sebagai satu-satunya fasilitas pengayaan uranium Korut. Dengan demikian, menutup area tersebut tidak menandakan berakhirnya program atom negara terisolasi itu.

Korut pernah menangguhkan uji coba nuklir dan rudal selama proses diplomatik pada 2018. Namun kemudian negara Asia Timur ini mengatakan pihaknya mengabaikan moratorium yang dideklarasikan sendiri pada Januari 2020.

Korut kemudian melakukan serangkaian peluncuran rudal jarak pendek. Meski demikian, belum ada uji coba nuklir yang dilakukan sejak 2017.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement