Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Masalah Implementasi Kurikulum Masih Belum Terselesaikan

Sabtu 28 Aug 2021 19:29 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Endro Yuwanto

Kurikulum (ilustrasi).

Kurikulum (ilustrasi).

Foto: kawancerdas
Kurikulum selalu berubah-ubah tapi pembelajaran di sekolah tak alami perubahan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan mengatakan, masalah yang perlu menjadi perhatian dalam pendidikan Indonesia adalah implementasi kurikulum. Masalah implementasi kurikulum ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh dunia.

Hamid menjelaskan, kurikulum sejak Indonesia merdeka selalu berubah-ubah. Namun, pada praktiknya pembelajaran di sekolah tidak mengalami perubahan yang signifikan setiap kali dilakukan pergantian kurikulum. Menurutnya, setiap kurikulum membawa inovasi yang mestinya mengubah implementasi.

"Kalau kita lihat implementasi kurikulum, itu masalah besar. Yang kita lihat di Indonesia, kita tidak pernah menyaksikan adanya perubahan dalam praktik di sekolah. Sedangkan setiap kurikulum baru menghendaki adanya perubahan. Tapi itu tidak terjadi," kata Hamid, saat menjadi pembicara pada Refleksi 76 Tahun Pendidikan Nasional, Sabtu (28/8).

Hamid berpendapat, kualitas guru perlu menjadi perhatian dalam implementasi kurikulum. Guru perlu diberi pelatihan yang tepat, misalnya dalam mengajar dengan HOTS (Higher Order Thinking Skill). "Bagaimana guru kita bisa mengajar HOTS kalau dia tidak dilatih tentang hal itu," kata dia lagi.

Menurut Hamid, kebijakan selama ini masih kurang memecahkan masalah. Begitu banyak kebijakan yang tidak tuntas, namun muncul kebijakan baru lainnya. Sementara masalah utama pendidikan belum tersentuh.

Permasalahan guru menjadi hal yang harus diselesaikan. Sebab, saat ini guru masih belum merata di seluruh Indonesia. Hamid pun mempertanyakan, bagaimana pendidikan bisa sesuai dengan kurikulum jika gurunya saja belum merata.

"Kita harus melihat problemnya. Kalau dia tidak punya guru, mengapa? Sekian banyak guru honorer kita, mengapa tidak diangkat? Kalau mereka tidak lulus tes, itu apakah mereka akan berhenti bekerja karena dianggap tidak berkualitas?" kata Hamid.

Hamid menegaskan, Indonesia tidak bisa mengabaikan kenyataan masih tidak meratanya guru. Sebab, jika diabaikan, maka kurikulum apapun yang dikembangkan, manusia apapun yang ditargetkan oleh kurikulum tersebut, tidak akan bisa tercapai.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA