Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Rektor Umrah: Bahaya Konsumsi Pencernaan Siput Gonggong

Jumat 27 Aug 2021 13:00 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Siput laut gonggong, seaffood khas di Kota Tanjungpinang dan Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Siput laut gonggong, seaffood khas di Kota Tanjungpinang dan Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Foto: Andi Nur Aminah/Republika
Gonggong menjadi menu andalan di restoran seafood di Tanjungpinang dan Batam.

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG -- Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah), Prof Agung Dhamar Syakti mengingatkan, masyarakat untuk tidak mengonsumsi bagian pencernaan siput laut gonggong.

"Bagian pencernaan gonggong berada di ujung di dalam cangkangnya. Memang pada bagian itu, agak lebih enak, lembut dan seperti berlemak, tetapi tidak sehat," kata Agung di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Jumat (27/8).

Menurut dia, penelitian terhadap gonggong cukup menarik lantaran merupakan makanan khas masyarakat Pulau Bintan dan Batam. Wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut, sambung dia, juga suka mengonsumsi gonggong.

Agung menyebut, gonggong juga menjadi salah satu menu andalan di restoran seafood. Berdasarkan hasil penelitian dosen dan mahasiswa Umrah, sambung dia, ditemukan kandungan zat yang berbahaya di bagian pencernaan gonggong. Zat itu seperti mikroplastik dan timbal.

Gonggong yang mengandung timbal, kata Agung hidup di perairan yang tercemar limbah dari pertambangan bauksit di Pulau Bintan. Bahkan, peneliti juga menemukan cacing dan telur cacing berukuran mikro di bagian pencernaan gonggong.

"Gonggong hidup di pasir yang mengonsumsi organik di sekitarnya. Perairan yang tercemar timbal dan mikroplastik itu menyebabkan gonggong tidak higienis pada bagian tertentu," ucap Agung.

Dia menuturkan, gonggong sebagai makanan khas masyarakat Pulau Bintan dan Batam, boleh dikonsumsi. Namun, ada kiat memasak gonggong yang higienis. Caranya dengan dimulai melepaskan tubuhnya dari cangkang, kemudian memotong bagian pencernaan sebelum dimasak.

Namun bagi masyarakat dan pedagang, bentuk gonggong tidak lagi eksotis atau unik bila dimasak atau direbus tanpa cangkang. Sehingga kerap seluruh tubuh dan cangkang dimasak agar kelihatan menarik dan terkesan lebih banyak.

Menurut Agung, masyarakat tetap boleh mengonsumsi gonggong yang dimasak utuh. Namun, sebaiknya tidak mengonsumsi bagi pencernaan gonggong tersebut agar lebih sehat.

"Peneliti Umrah juga menemukan tubuh gonggong yang layak dikonsumsi, sangat baik untuk kesehatan tubuh. Namun tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan," tutur Agung.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA