Senin 23 Aug 2021 15:02 WIB

Johnson Lobi Biden Perpanjang Batas Waktu di Afghanistan

Pejabat Taliban menyebut pasukan asing di Afghanistan belum perpanjang batas waktu.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah
Dalam gambar yang disediakan oleh Korps Marinir AS, pasukan koalisi Inggris dan Turki, bersama dengan Marinir AS, membantu seorang anak selama evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Jumat, 20 Agustus 2021
Foto: AP/Staff Sgt. Victor Mancilla/U.S. Marine Cor
Dalam gambar yang disediakan oleh Korps Marinir AS, pasukan koalisi Inggris dan Turki, bersama dengan Marinir AS, membantu seorang anak selama evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Afghanistan, Jumat, 20 Agustus 2021

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kantor Downing Street menyatakan pada Ahad (22/9) malam, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan melakukan lobi Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 secara virtual. Permintaannya itu untuk menahan pasukan AS di bandara Kabul setelah akhir Agustus. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya jumlah orang yang memadati bandara Kabul untuk meninggalkan negara itu.

Para pejabat mengonfirmasi Johnson akan menggunakan pertemuan G7 untuk mendorong Biden agar AS memperluas kehadirannya di Kabul. Inggris percaya G7 harus mempertimbangkan sanksi ekonomi dan menahan bantuan jika Taliban melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan membiarkan wilayahnya digunakan sebagai surga bagi militan.

Baca Juga

Masih belum jelas berapa lama AS akan tetap berada di bandara untuk melanjutkan pengangkutan udara. Inggris sebelumnya telah mati-matian melobi pemerintahan Biden agar mempertimbangkan untuk tetap melewati batas waktu yang diumumkan sebelumnya yaitu 31 Agustus tetapi tidak berhasil.

Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, James Heappey, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, mendapat kecaman karena penanganannya sendiri terhadap krisis.

Seorang pejabat Taliban mengatakan pasukan asing di Afghanistan belum memperpanjang batas waktu 31 Agustus untuk meninggalkan negara itu.

Berita itu muncul ketika pasukan Taliban berusaha untuk menegaskan otoritas dengan menyalahkan AS atas anarki di bandara. Kelompok ini bersikeras bahwa mereka adalah satu-satunya yang mampu memulihkan ketertiban.

Taliban menuduh AS yang yang menjaga bandara dengan 5.200 tentara telah gagal menjaga kendali dengan baik.  Sedikitnya 20 orang tewas dalam kekacauan di landasan dan di luar bandara sejakAhad pekan lalu.

Sepanjang hari, para pejuang Taliban menembakkan senjata ke udara dan menggunakan pentungan untuk memaksa orang-orang antre ketika akan masuk ke bandara.  Banyak warga Afghanistan lainnya ditahan di penghalang jalan atau terlalu takut untuk bepergian meskipun menerima tawaran evakuasi.

Lebih dari 1.900 orang dievakuasi sebagai bagian dari operasi RAF dalam 24 jam hingga Ahad malam. Jumlah tersebut menjadikan angka keseluruhan evakuasi menjadi 5.725 sejak 12 Agustus.

Inggris mengatakan akan mendirikan pusat suaka lepas pantai untuk pengungsi Afghanistan di negara-negara seperti Pakistan dan Turki. Keputusan ini memeprtimbangkan Inggris tidak dapat menyelamatkan semua orang yang memenuhi syarat untuk pemukiman kembali tepat waktu. Namun, Turki mengatakan akan menolak permintaan untuk mendirikan pusat dari Inggris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement