Jumat 20 Aug 2021 14:30 WIB

Grand Strategi PLN Wujudkan Energi Bersih

Menjadi perusahaan yang green dan energi bersih merupakan salah satu transformasi PLN

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bob Saril.
Foto: istimewa/doc humas
Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bob Saril.

REPUBLIKA.CO.ID, Saat ini semua negara sedang berlomba dalam menuju energi bersih dan mengurangi emisi karbon. PLN selaku BUMN yang bergerak di bidang energi juga mengambil bagian dari mewujudkan Indonesia yang berbasis energi bersih.

Bagaimana grand strategi PLN dalam mewujudkan energi bersih? Republika berkesempatan untuk berbincang dengan Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bob Saril mengenai hal ini.

Baca Juga

Bagaimana grand strategi PLN dalam mendukung energi bersih di Indonesia?

Jawab: Berbagai upaya sedang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan energi bersih di Indonesia. Salah satunya lewat kami selaku penyedia listrik.

Indonesia sebenarnya merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Menjadi perusahaan yang Green merupakan salah satu transformasi PLN. PLN berkomitmen untuk beralih ke energi bersih dengan fokus memanfaatkan dan menggali potensi energi bersih yang ada di Indonesia.

Namun, kita juga tidak bisa menampik ketika berbicara energi bersih kita jangan sampai hanya menjadi market dari narasi global. Untuk mencapai transisi energi bersih kita perlu tahapan tahapan yang juga bisa menjaga suistanablity negara. 

Arahnya adalah gimana arah transisi energi secara smooth dan menguntungkan masyarakat. Nggak menyianyiakan yang sudah kita bangun.

PLTU nggak bisa berhenti begitu saja. Transisi itu, harus dilakukan dengan smooth dan ada tahapannya.

Kita tidak bisa langsung dalam waktu singkat sepekan dua pekan lalu tidak memanfaatkan PLTU yang sudah kita bangun dengan investasi. Jika ini dilakukan juga akan berdampak pada iklim investasi negara.

Namun apakah PLN berdiam diri? tentu saja tidak, meski kami masih mengoperasionalkan PLTU, namun ada inovasi yang kami lakukan. Salah satunya dengan teknik co-firing. 

Meski ada batubara sebagai bahan baku utama tapi kami juga coba melakukan menggunakan sampah dan limbah sebagai bahan baku subtitusi dari batubara ini. Kita bisa kan. Biomassa yang tidak gunakan. Sampah kita buat jadi bahan bakar. Selain menjawab persoalan sampah, ternyata ini bisa kita manfaatkan untuk mengurangi carbon emisi yang dihasilkan dari PLTU.

Selain dari sisi pembangkit, PLN juga mengambil bagian dari pengembangan ekosistem mobil listrik. PLN mengambil peran dari hulu sampai hilir dari ekosistem mobil listrik ini. Dengan cepatnya masifnya mobil listrik ini maka Indonesia bisa cepat mengurangi emisi karbon dan menjadi negara yang lebih bersih lagi.

Bagaimana strategi PLN dalam mendorong pembangkit yang berbasis energi bersih?

Jawab: Kami tidak menutup mata. Bahkan RUPTL yang saat ini sedang dibuat oleh Pemerintah dan PLN mendorong masifnya pembangkit EBT. Karena memang disatu sisi potensi EBT di Indonesia juga besar.

Katakanlah panas bumi, kita sama-sama membentuk holding panas bumi. PLN mendukung. Karena kita merasakan panas bumi. Panas Bumi ini nggak bisa diperjual belikan. 

Panas bumi harus konsolidasikan. Kita proses agar menjadi energi yang bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat. 

Selain itu, Indonesia juga punya PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Cirata. Indonesia juga punya PLTB terbesar di Asia Tenggara, di Jenopoto. Porsi PLTA Indonesia juga sudah cukup masif 13 persen dari total seluruh pembangkit listrik.

Potensi gas yang besar di Indonesia juga bisa dikembangkan untuk PLTG. Kita sedang bergerak bersama sama ke arah sana. Untuk menjawab ini kita butuh kolaborasi dan kerjasama semua pihak untuk menciptkan energi bersih di Indonesia.

Apa saja strategi PLN dalam mendukung energi bersih ini?

Jawab: Selain secara infrastruktur, PLN juga perlu menyiapkan teknologi dan SDM yang cakap dalam pengembangan EBT ini. Kita jangan sampai termakan oleh narasi global yang mendorong kita malah untuk menjadi pasar dari bahan baku EBT. Kita punya kemampuan untuk memproduksi ini sendiri. Memang butuh waktu dan bertahap, namun negara punya SDM dan inovasi yang bisa terus dikembangkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement