Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Satgas Sebut Kasus Covid-19 Nasional Alami Tren Perbaikan

Jumat 20 Aug 2021 04:15 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito.

Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito.

Foto: ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Kasus membaik dalam tiga hingga empat pekan terakhir di 25 provinsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyampaikan kasus COVID-19 di tingkat nasional mengalami tren perbaikan. Kasus membaik dalam tiga hingga empat pekan terakhir.

"Hal ini tentunya menjadi kabar baik dan semangat bagi kita semua untuk dapat terus berupaya menekan kasus COVID-19 setidaknya hingga mencapai keadaan seperti sebelum terjadi lonjakan kasus," ujar Wiku dalam konferensi pers yang dipantau via daring di Jakarta, Kamis (19/8).

Baca Juga

Ia mengemukakan, pada periode 9-15 Agustus ini terjadi penurunan kasus positif di 25 provinsi atau 73 persen dari seluruh provinsi di Indonesia. Ia menyebutkan provinsi yang paling banyak mengalami penurunan kasus positif, yakni Jawa Barat turun 7.128 kasus, DKI Jakarta turun 5.201 kasus, Jawa timur turun 4.407 kasus, Kalimantan timur turun 2.959, dan NTT turun 2.866 kasus.

Ia menambahkan, penurunan kasus ini juga diiringi positivity rate dari sebelumnya 23,57 persen pada tanggal 2-8 Agustus, menjadi 21,48 persen pada 9-15 Agustus atau turun 2,09 persen."Artinya, sebagian besar provinsi di Indonesia sudah mengalami perbaikan dan semakin dapat mengendalikan penularan," ujar Wiku.

Namun, ia mengatakan, sayangnya masih ada sembilan provinsi yang masih menunjukkan angka kenaikan kasus pada periode itu. Disebutkan, sembilan provinsi itu yakni Jawa tengah yang naik sebesar 2.952 kasus, Bali naik 1.094 kasus, Papua barat naik 667 kasus, KalimantanTengah naik 553 kasus.Kemudian, Sulawesi barat naik 295 kasus, Aceh naik 247 kasus, NTB naik 208 kasus, Maluku naik 167 kasus, dan Jambi naik 41 kasus.

Baca juga : Polisi Buru Pembuat Mural, Warganet Bawa-Bawa Status Wanda

Wiku mengingatkan, penurunan kasus yang terjadi di tingkat nasional sebaiknya tidak serta merta menjadi justifikasi bagi pemerintah daerah untuk lengah atas keadaan daerahnya masing-masing."Pemerintah daerah harus konsisten aktif membaca data perkembangan COVID-19 di daerahnya, dengan membaca data secara berkala maka pemerintah daerah dan masyarakat dapat mengantisipasi kenaikan kasus semaksimal mungkin dan penanganan kasus sedini mungkin," katanya.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA