Tuesday, 12 Jumadil Awwal 1444 / 06 December 2022

Kebudayaan di Siberut Selatan Disebut 'Berlian Tersembunyi'

Kamis 19 Aug 2021 14:22 WIB

Red: Bilal Ramadhan

Kapal Cepat Mentawai Fast menjelang bersandar di Pelabuhan Muara, Padang, Sumatera Barat, Jumat (7/5).

Kapal Cepat Mentawai Fast menjelang bersandar di Pelabuhan Muara, Padang, Sumatera Barat, Jumat (7/5).

Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA
Mentawai jadi tujuan wisata dan keberadaan Siberut Selatan untuk beri pilihan lain.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengatakan kebudayaan yang dimiliki desa di Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan aset yang perlu dikelola dengan baik dari cara pandang kepariwisataan.

"Kami menilai kebudayaan ini adalah "berlian" yang masih tersimpan. Kami berusaha mengangkat dan memoles untuk menaikkan posisi berlian itu ke atas agar bisa dikenal, diapresiasi dan dinikmati," kata Mahyeldi, saat pembukaan pameran kebudayaan dan produk kebudayaan di Universitas Negeri Padang.

Pameran yang digelar selama 18-20 Agustus tersebut dimaksudkan untuk mendukung program pengembangan ekowisata di Sumatera Barat. "Mentawai merupakan salah satu tujuan wisata yang memiliki sangat banyak pesona di Sumbar. Selama ini sebagian besar wisatawan asing tersedot ke daerah ini. Dengan pengembangan ekowisata, pilihan wisatawan akan lebih beragam," katanya.

Dengan pilihan yang beragam tersebut diharapkan wisatawan akan tinggal lebih lama di Mentawai sehingga perekonomian masyarakat bisa bergerak dengan cepat yang pada akhirnya juga akan menguntungkan daerah.

Ia mengatakan pariwisata adalah salah satu program unggulan yang masuk dalam RPJMD Sumbar 2021-2026 sehingga sangat sejalan dengan pengembangan ekowisata yang sedang dikembangkan.

Dalam masa pandemi, pengembangan pariwisata tidak bisa dilepaskan dari kewajiban penerapan protokol kesehatan. Dengan prokes, perekonomi bisa tetap berjalan untuk menopang kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu manager proyek Drs. Rina Suprina dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti Jakarta mengatakan sebelum memutuskan Taman Nasional Siberut sebagai lokasi pengembangan ekowisata, ada opsi lain yang dimiliki yaitu Taman Nasional Leuser.

Namun setelah riset dan pengumpulan data, diputuskan memilih Taman Nasional Siberut tepatnya di Siberut Selatan. Ada lima desa yang berada di Siberut Selatan, namun setelah pengkajian lebih dalam maka dipilih tiga desa untuk diberikan pembinaan dan pendampingan dalam pengembangan ekowisata sebagai penunjang Taman Nasional Siberut.

Tiga desa itu masing-masing Madobak Ugai, Matotonan dan Muntei yang dinilai memiliki banyak kelebihan diantaranya dalam bidang budaya. "Setelah proses menghimpun data, mengupdate dan mensinergikan dengan program di Pemkab Mentawai maka dipilih kebudayaan sebagai dasar pengembangan ekowisata," katanya.

Namun usaha yang dilakukan itu masih merupakan langkah awal. Pengambil kebijakanlah yang dapat melanjutkannya agar benar-benar bisa menjadi daya tarik wisata yang mampu menyedot perhatian dunia.

Produk yang ditampilkan dalam pameran tersebut adalah peralatan yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat Siberut Selatan yang sedikit dipoles sehingga memiliki nilai lebih yang bisa dimanfaatkan sebagai souvenir.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA