Kamis 19 Aug 2021 13:31 WIB

Sosiolog: Polisi Perlu Dampingi Intensif Cegah Tawuran

Sepanjang 2021, tawuran antar warga di Johar Baru terjadi lebih dari tiga kali.

Sejumlah petugas saat menyelesaikan penataan Jembatan Kota Paris, Johar Baru, Jakarta, Senin (24/5). Pemerintah Kota Jakarta Pusat mulai melakukan penataan Jembatan Kota Paris yang akan dialihfungsikan menjadi taman karena kerap menjadi akses untuk tawuran oleh warga. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah petugas saat menyelesaikan penataan Jembatan Kota Paris, Johar Baru, Jakarta, Senin (24/5). Pemerintah Kota Jakarta Pusat mulai melakukan penataan Jembatan Kota Paris yang akan dialihfungsikan menjadi taman karena kerap menjadi akses untuk tawuran oleh warga. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sosiolog dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida meminta agar polisi melakukan pendampingan yang lebih intensif terhadap kelompok warga usia muda guna mencegah tawuran yang kerap terjadi di Johar Baru, Jakarta Pusat.

Pendampingan dilakukan mengingat tawuran antarwarga yang sering terjadi melibatkan pemuda di Kelurahan Tanah Tinggi dan Kelurahan Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat.

"Polisi perlu mengembangkan pendekatan yang bersifat preventif melalui pendampingan secara intens kepada kelompok kaum muda, karena mereka adalah kelompok rentan dan marginal," kata Ida.

Tercatat setidaknya sepanjang 2021, tawuran pecah antarwarga Johar Baru terjadi lebih dari tiga kali. Menurut Ida, kelompok warga usia muda mudah terprovokasi ikut tawuran karena menjadi ajang untuk eksistensi dari kelompok atau "gank" di wilayah tersebut.

Kondisi status pendidikan yang rendah dan keterampilan yang tidak memadai membuat kelompok warga usia muda ini menjadi rentan, marginal, bahkan membentuk stigma.

"Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial ekonomi masyarakat Johar Baru yang kumuh, miskin dan padat," ujar Ida.

Oleh karenanya, polisi maupun Pemerintah Kota Jakarta Pusat perlu melakukan pendekatan yang lebih persuasif dan edukatif di lintas kelompok warga yang berfokus pada kegiatan seni budaya dan pelatihan keterampilan hidup.

"Kegiatan-kegiatan dapat dilakukan yang memang sesuai dengan minat dan potensi mereka, sebagaimana yang pernah kami kembangkan, misalnya mural, musik dan lain-lain," tutur Ida.

Ada pun tawuran antarwarga kerap kali terjadi terutama di Jembatan Paris, mengingat lokasi tersebut memisahkan permukiman padat penduduk antara Kelurahan Kampung Rawa dan Kelurahan Tanah Tinggi.

Pada Senin lalu, insiden tawuran kembali terulang, bahkan menewaskan satu warga berinisial IM (51) yang menjadi korban karena hendak melerai dua kelompok yang tengah bersitegang itu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement