Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

Taliban tak Menyangka bisa Kuasai Afghanistan dengan Cepat

Rabu 18 Aug 2021 08:45 WIB

Red: Joko Sadewo

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan  melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS).  Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.

Taliban menyatakan bahwa perang telah berakhir di Afghanistan.

JAKARTA -- Taliban tidak menyangka akan mencapai targetnya di Afghanistan begitu cepat. Hal ini disampaikan Kepala Biro Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar, di Qatar.

"Kami tidak menyangka bahwa kami akan mencapai kesuksesan ini dengan begitu cepat dan mudah," kata Mullah Abdul Ghani Baradar mengomentari dominasi Taliban atas seluruh Afghanistan, khususnya di Kabul.

"Namun kami tidak boleh sombong karena kami akan memiliki tanggung jawab lebih berat dari sebelumnya. Ujian sebenarnya dimulai saat ini untuk memenuhi harapan masyarakat dan membantu mereka dalam menyelesaikan masalah,” kata dia lagi.

Dia juga mengatakan bahwa Taliban perlu meyakinkan orang-orang bagaimana melindungi diri dan masa depan mereka.

Mohammad Naeem, juru bicara kantor politik Taliban di Qatar, menyatakan bahwa perang telah berakhir di Afghanistan.

"Jenis pemerintahan maupun bentuk rezim akan segera diumumkan. Kami menjamin perlindungan yang diperlukan bagi warga negara dan misi diplomatik,” kata Naeem, seraya menegaskan tidak ada bahaya bagi kedutaan, misi diplomatik, dan warga negara asing di Kabul.

Baca juga : Ini Sosok Abdul Ghani Baradar, Pemimpin Emirat Islam

Dia meyakinkan bahwa Taliban akan menjaga keamanan di seluruh negeri, tidak akan membiarkan siapa pun ikut campur dalam kebijakan domestik mereka, dan akan menahan diri untuk tidak melakukannya kepada orang lain.

- Perkembangan masif

Pernyataan itu dirilis setelah Taliban membuat kemajuan militer dengan mengambil alih negara itu dari pasukan pemerintah Afghanistan yang melarikan diri atau menyerah.

Taliban mengambil alih istana kepresidenan di Kabul pada Minggu, menurut juru bicara kelompok itu, Zabiullah Mujahid.

Perkembangan tersebut terjadi setelah masuknya Taliban ke ibu kota yang terkepung dan kepergian Presiden Ashraf Ghani bersama dengan para ajudannya dari negara itu.

"Beliau [Ghani] meninggalkan Afghanistan saat masa-masa sulit. Tuhanlah yang akan meminta pertanggungjawabannya," kata Kepala Dewan Rekonsiliasi Nasional Afghanistan Abdullah Abdullah, dalam sebuah pesan video.

Setelah kepergian Ghani, mantan presiden Hamid Karzai, politikus veteran Gulbuddin Hekmatyar, dan perunding perdamaian terkemuka Abdullah membentuk dewan dengan tujuan memastikan kelancaran transfer kekuasaan.

Membela keputusannya, Ghani beralasan bahwa dia meninggalkan Kabul untuk menghindari pertumpahan darah.

Sementara itu, Mujahid mengatakan Taliban tidak akan menerima pengaturan transisi apa pun. Sebaliknya, kelompok itu menginginkan transisi kekuasaan sesegera mungkin.

Baca juga : Pakistan: Afghanistan Butuh Solusi Politik

Menurut Mujahid, sebuah delegasi komisi militer Taliban telah hadir di istana presiden untuk merundingkan pemindahan kekuasaan.

Dewan konsultatif Taliban telah mengumumkan amnesti untuk pasukan Afghanistan dan pejabat pemerintah dalam kasus penyerahan tanpa syarat.

- Kota Hantu

Hingga saat ini, helikopter pasukan Amerika Serikat masih tampak melakukan penerbangan bolak-balik antara Kedutaan Besar Amerika dan Bandara Kabul untuk mengevakuasi diplomat AS.

"Kabul tampak seperti kota hantu sekarang. Semua toko, pasar, dan restoran tutup. Jalan-jalan terlihat sepi," ungkap Anis Khan, seorang jurnalis yang berbasis di Kabul, kepada Geo News.

"Kota ini dalam cengkeraman ketakutan dan kebingungan," tambah Khan.

Baca juga : AS Siap Kirim Kembali Pasukan ke Afghanistan Lawan Terorisme

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA