Senin 16 Aug 2021 05:26 WIB

Penjelasan BPIP Soal Lomba Penulisan Artikel Hormat Bendera

Lomba penulisan artikel BPIP soal hormat bendera sempat dikritik.

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil
 Penjelasan BPIP Soal Lomba Penulisan Artikel Hormat Bendera.  Foto ilustrasi: Sejumlah siswa mengikuti Kirab 76 Bendera Merah Putih di Bugel, Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (14/8/2021). Kirab dan memasang sebanyak 76 bendera Merah Putih yang diikuti siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama tersebut bertujuan untuk menyambut HUT ke-76 Republik Indonesia serta menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda.
Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho
Penjelasan BPIP Soal Lomba Penulisan Artikel Hormat Bendera. Foto ilustrasi: Sejumlah siswa mengikuti Kirab 76 Bendera Merah Putih di Bugel, Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (14/8/2021). Kirab dan memasang sebanyak 76 bendera Merah Putih yang diikuti siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama tersebut bertujuan untuk menyambut HUT ke-76 Republik Indonesia serta menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA—Sekretaris Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Achmad Uzair Fauzan mengatakan, sebagai lembaga pembinaan ideologi Pancasila, BPIP memiliki beragam pendekatan untuk mengikutsertakan masyarakat dalam pembinaan, salah satunya melalui perlombaan. Dia menjelaskan, setiap 1 Juni hingga 17 Agustus, BPIP selalu menggelar kegiatan bernama Bulan Pancasila.

Kegiatan itu diisi dengan beragam perlombaan, mulai dari lomba konten kreatif di sosial media, orasi, film pendek, hingga pemilihan ikon Pancasila yang dipilih dari beragam latar belakang, mulai dari olahragawan, budayawan, tokoh lingkungan, tokoh lintas agama, dan lainnya, jelasnya. 

Baca Juga

“Jadi sebetulnya lomba hormat bendera dan lagu kebangsaan ini adalah bagian kecil dari serangkaian kegiatan yang digelar BPIP. Jadi seharusnya ini dilihat secara umum,” kata Fauzan saat dihubungi Republika, Ahad (15/8).

“Saya kira kita harus lihat bahwa selain sebagai rangkaian dari kegiatan Bulan Pancasila dan HUT RI, tapi juga ada keterkaitan dengan perayaan Hari Santri, di mana kami melihat tradisi dari hari santri ini seperti apa, seperti tradisi Bathsul Masail di kalangan santri salafi, di mana mereka membahas beragam isu sosial ditinjau dari perspektif Fiqih dan kajian keislaman,” tuturnya menjelaskan. 

Menurutnya, melalui lomba ini, BPIP mencoba mengembangkan dan mengekpos kekayaan tradisi keislaman dalam perspektif kebangsaan bagi santri. “Maka saya kira ini harus dilihat lebih jernih, bahwa lomba ini juga berkaitan dengan Hari Santri dan segala tradisi yang ada,” tegasnya, menambahkan bahwa kekayaan budaya ini pula yang memacu BPIP untuk dapat mengembangkan konsep keagamaan yang tidak membenturkan, namun justru menguatkan. 

“Jadi saya kira akan keliru jika memandang lomba ini sebagai pembenturan Islam dan Pancasila, karena ini sejatinya kita ingin melihat dinamika dan kekayaan intelektual Islam yang mendukung pada penguatan konsep kebangsaan itu seperti apa. Itu yang saya kira perlu dilihat secara lebih jernih,” ujarnya. 

Sejauh ini, perlombaan yang diadakan untuk memperingati Hari Santri Nasional ini telah memasuki tahap pengumuman dan pengumpulan peserta. Fauzan mengatakan bahwa antusias dan respon positif masyarakat sangat besar atas lomba penulisan artikel ini.

“Kami mendapat ratusan pesan ketertarikan dari masyarakat, sampai staf kami juga kewalahan untuk menjawab. Jadi antusiasme positif masyarakat luar biasa dan menjadi masukan untuk kami agar lebih banyak membuat acara yang menjangkau publik dan berorientasi pada konteks sosial tertentu,” ujarnya. 

Dia berharap lomba yang mencangkup dua tema ini, Hormat Bendera Menurut Hukum Islam dan Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam, akan membuka lebih luas partisipasi masyarakat, menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan, dan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk meresapi dan mengkaji lebih mendalam tentang makna dari dua identitas bangsa Indonesia tersebut. 

“Kami berharap dengan penyelenggaraan ini akan ada banyak masukan dan partisipasi yang luas baik dalam bentuk gagasan baru maupun sudut pandang dari konsep keagamaan maupun keislaman yang harapannya bisa menjadi referensi kami dalam program pembinaan ideologi Pancasila,” ujarnya.

“Mereka yang terlibat juga diharapkan dapat menjadi agen pembinaan ideologi Pancasila ke masyarakat umum. Sehingga muncul kesadaran baru bahwa ini bukan bentuk monopoli negara tapi justru membuka ruang yang luas untuk masyarakat dalam memberikan interpretasi dan tafsir atas konsep kebangsaan dan menciptakan kesadaran kewarganegaraan dan nasionalisme,” pungkasnya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement