Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

SII: Mencampur Dua Vaksin Covid-19 Tindakan Berisiko

Sabtu 14 Aug 2021 10:37 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Reiny Dwinanda

Wanita memegang tangan mereka setelah menerima vaksin Covishield melawan virus corona di pusat vaksinasi di Mumbai, India, Ahad (4/7). Menggunakan vaksin yang berbeda untuk dosis pertama dan kedua alias mencampur vaksin dinilai sebagai tindakan yang berisiko.

Wanita memegang tangan mereka setelah menerima vaksin Covishield melawan virus corona di pusat vaksinasi di Mumbai, India, Ahad (4/7). Menggunakan vaksin yang berbeda untuk dosis pertama dan kedua alias mencampur vaksin dinilai sebagai tindakan yang berisiko.

Foto: AP/Rafiq Maqbool
Ketua SII menentang pencampuran vaksin Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Ketua Serum Institute of India (SII) Cyrus Poonawalla menegaskan bahwa mencampur dua vaksin Covid-19 yang berbeda adalah keputusan yang sangat berisiko. Ia meminta supaya tindakan tersebut harus dihindari.

Poonawalla menentang pencampuran vaksin. Menurutnya, jika pencampuran vaksin dilakukan dan hasilnya tidak baik maka produsen vaksin akan saling menyalahkan.

Baca Juga

"Pertama-tama, otoritas vaksin tidak akan pernah memberikan persetujuan penuh karena itu adalah keputusan yang sangat berisiko dan sangat berbahaya. Buang-buang waktu. Ketika satu vaksin bekerja mengapa kita harus mencampurnya dan menyebabkan komplikasi? Kita harus benar-benar mencegah ini," kata Poonawalla, dikutip dari India TV News pada Sabtu (14/8).

Poonawalla mengkritik pemerintahan negara yang mengizinkan pencampuran vaksin Covid-19. Ia juga menyinggung India dan negara lainnya yang memperpanjang jangka waktu pemberian dosis pertama dan kedua vaksin.

"Biasanya, dosis kedua harus diberikan antara dua hingga tiga bulan. Ketika produk tidak tersedia, pemerintah menemukan solusi bahwa dosis kedua harus diberikan setelah tiga bulan. Seharusnya hanya ada jarak dua bulan antara kedua dosis," ujar Poonawalla.

Kemudian, tentang dosis penguat, Poonawalla turut meresponsnya. Ia menyebut, setiap orang harus menggunakan dosis ketiga setelah enam bulan mengambil dosis kedua.

"Sebab, pada saat itu antibodi dalam tubuh mulai berkurang," kata Poonawalla.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA