Jumat 13 Aug 2021 21:19 WIB

Universiti Muhammadiyah Malaysia Tonggak Perguruan Tinggi RI

Universiti Muhammadiyah Malaysia telah mendapatkan izin.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Muhammad Hafil
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir
Foto: PP Muhammadiyah
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir

REPUBLIKA.CO.ID,YOGYAKARTA -- Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memperoleh izin resmi pendirian Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM). Izin dikeluarkan Jabatan Pendidikan Tinggi pada Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia pada 5 Agustus 2021.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengatakan, kelulusan ini melalui perjuangan tidak henti sejak 2017. Dilakukan tim yang dibentuk PP Muhammadiyah seperti mendirikan University Consortium Muhammadiyah Malaysia.

Baca Juga

"Pendirian UMAM merupakan tonggak baru perguruan tinggi Indonesia pertama di luar negeri yang dimaksudkan sebagai perluasan gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa dan pengembangan pendidikan tinggi di ranah global," kata Haedar, Kamis (12/8).

Diawali kawasan serumpun regional ASEAN, berfungsi strategis mewujudkan kemajuan dan persatuan antarbangsa. Ini demi membangun peradaban bersama yang mencerahkan di bawah panji Islam berkemajuan yang berwawasan raḥmatan lil alamin.

Pendirian UMAM dimulai pendirian perseroan terbatas pada 8 Februari 2017 bernama UCMM Konsortium Sdn. Bhd. Lembaga Pengarah Syarikat atas nama Haedar Nashir, Mohd Noh Bin Dalimin, Ahmad Dahlan Rais, dan Marpuji Ali Muanam.

Usaha pengajuan kelulusan diawali penyiapan dokumen persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku di Malaysia. Ditempuh dalam proses bertahap dan waktu yang panjang selama lebih tiga tahun di bawah koordinator Prof Bambang Setiaji bersama tim.

PP Muhammadiyah dipimpin Ketum Prof Haedar Nashir bersama dan tim bertemu dengan Menteri Pendidikan Malaysia, Dr Maszlee Malik. Setelah itu, bersilaturahmi ke Tuanku Raja Perlis serta Majelis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Perlis.

Dilanjutkan pertemuan-pertemuan lain kepada berbagai pihak oleh Tim UMAM. Usaha pendirian UMAM memperoleh persetujuan Pemerintah Indonesia melalui Rekomendasi Kemendikbud yang ditandatangani Menteri Nadiem Anwar Makarim 7 September 2020.

Dari Malaysia, usaha pendirian UMAM mendapatkan dukungan penuh Kerajaan Perlis, Majelis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Perlis, dan Kementerian Pengajian Tinggi Malaysia. Serta, mitra-mitra Muhammadiyah dan guru-guru besar Malaysia.

Setelah semua dokumen dan persyaratan terpenuhi dengan proposal khusus pendirian universitas Muhammadiyah yang ada di Negeri Perlis. Pada proses terakhir 2 Juni 2021, dilaksanakan presentasi di Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia oleh tim.

"Pada 10 Agustus 2021 bertepatan 1 Muharam 1443 H oleh Ketua Pengarah Jabatan Pendidikan Tinggi Malaysia, Husaini Bin Omar, dibacakan surat izin kelulusan dan persetujuan pendirian UMAM dalam pertemuan resmi secara virtual," ujar Haedar.

Pengumuman tersebut bersifat monumental dan bermakna saat Muhammadiyah dan kaum Muslimin merayakan Tahun Baru 1443 Hijriah. Pada tanggal 2 Muharam 1443 H (11 Agustus 2021), PP Muhammadiyah menerima salinan resmi Surat Kelulusan UMAM.

UMAM dinyatakan LULUS sebagai Institusi Pendidikan Tinggi Swasta (IPTS) Malaysia dengan 15 prodi yang terdiri dari lima prodi PhD, lima prodi master dan lima prodi bachelor. Lalu, UMAM memulai proses persiapan pendirian dan pendaftaran.

Mulai operasional kepada prodi yang sudah disetujui sesegera mungkin. Haedar menekankan, dalam operasionalnya UMAM akan bersifat terbuka untuk semua negara dan kebangsaan sebagai wujud pendidikan inklusif bagi semua di ranah global.

PP Muhammadiyah akan bekerja sama perguruan tinggi negeri/swasta dan pihak-pihak di Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan UMAM sebagai pendidikan tinggi yang unggul untuk menjawab tantangan pendidikan di era globalisasi dan dunia modern.

Akhirnya, PP Muhammadiyah menyampaikan terima kasih ke semua pihak di Indonesia dan Malaysia. Ia berharap, Allah SWT melimpahkan rahmat dan karunia, sehingga ikhtiar dan pergerakan Muhammadiyah memperoleh kemudahan dan keberkahan.

"Dalam mengembangkan misi dakwah dan tajdid bagi kemajuan peradaban dunia yang raḥmatan lil alamin," kata Haedar. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement