Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Lima Penyebab Orang-orang Enggan ke Psikolog

Kamis 12 Aug 2021 02:19 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Psikologi (ilustrasi). Banyak orang saat ini telah mulai menaruh perhatian kepada kesehatan mental. Namun, pada kenyataannya, banyak pula dari mereka masih ragu untuk datang ke psikolog untuk mengetahui kondisi psikis mereka.

Psikologi (ilustrasi). Banyak orang saat ini telah mulai menaruh perhatian kepada kesehatan mental. Namun, pada kenyataannya, banyak pula dari mereka masih ragu untuk datang ke psikolog untuk mengetahui kondisi psikis mereka.

Foto: psychologytoday.com
Kurangnya pahamnya penyakit mental jadi salah satu penyebab orang enggan ke psikolog

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang saat ini telah mulai menaruh perhatian kepada kesehatan mental. Namun, pada kenyataannya, banyak pula dari mereka masih ragu untuk datang ke psikolog untuk mengetahui kondisi psikis mereka. 

Menurut siaran pers dari aplikasi konseling daring, Riliv, ada banyak hal yang membuat orang-orang Indonesia tidak ingin atau mampu pergi ke psikolog untuk berkonsultasi mengenai masalah atau gangguan mental yang dimilikinya. Pada akhirnya, hal itu membuat mereka enggan pergi ke psikolog. 

Berikut beberapa hambatan pergi ke psikolog yang mungkin dialami orang-orang Indonesia.

1- Stigma sosial dalam masyarakat

Sejak lama, masyarakat Indonesia menganggap gangguan jiwa sebagai sesuatu yang tabu. Kebanyakan dari mereka tidak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lain sebagai seseorang dengan perilaku yang menyimpang dari norma sosial.

Padahal, menurut psikolog dari aplikasi konseling daring Riliv, Della Nova Nusantara, M.Psi., Psikolog, gangguan kesehatan mental itu bukanlah hal yang tabu dan bukan pula aib. Itu, kata dia sama seperti saat fisik jika kita sedang terluka, lelah, kadang butuh istirahat, butuh treatment yang tepat sesuai dengan kebutuhannya saat itu.

"Begitu juga dengan kesehatan mental diperlukan treatment yang tepat untuk menjaga kesehatannya," kata Della. 

Meski stigmatisasi itu mulai berkurang di kalangan milenial dan Gen Z, stigma sosial masih dapat ditemukan. Sebab, hal yang tak mudah bagi generasi muda kita untuk melepaskan pemikiran kolektif yang telah tertanam sejak lama.

2- Kurangnya pemahaman kesehatan mental

Jika masih ada anggapan gangguan mental itu tabu, maka itu menandakan kesadaran orang Indonesia yang masih rendah tentang kesehatan mental. Biasanya, hal ini ditunjukkan dengan orang-orang yang menyepelekan gangguan mental, karena tidak bisa dilihat secara gamblang layaknya penyakit fisik.

Kenyataannya, penyakit mental dan fisik sama-sama menimbulkan rasa sakit kepada penderitanya. Bahkan, dalam beberapa kasus, penyakit mental lebih mungkin untuk mengancam nyawa seseorang.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA