Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

China Danai Proyek Junta Myanmar

Rabu 11 Aug 2021 16:32 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Panglima Junta Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing

Panglima Junta Militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing

Foto: Antara/Biro Pers-Rusan/hma
China akan mentransfer uang sebesar 6 juta dolar ASuntuk mendanai 21 proyek junta

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Kementerian Luar Negeri pemerintah militer Myanmar mengumumkan China akan mentransfer uang sebesar 6 juta dolar AS. Uang tersebut untuk mendanai 21 proyek pembangunan junta.

China menandatangani kerja sama dengan pemerintah militer yang menggulingkan pemerintah yang terpilih secara demokratis pada 1 Februari lalu. Tidak seperti negara-negara Barat yang mengecam junta karena menghentikan demokrasi, membunuh dan menangkap oposisi.

Baca Juga

China mengambil jalur yang lebih tenang pada pemerintah junta. Beijing mengatakan mereka memprioritaskan stabilitas dan tidak ingin mengintervensi urusan negeri tetangga.

Dalam pernyataannya, Rabu (11/8) Kementerian Luar Negeri Myanmar mengatakan dana yang ditransfer dari China akan digunakan untuk proyek dalam kerangka kerja Mekong-Lancang Cooperation yakni proyek-proyek budaya mencakup vaksinasi hewan, pertanian, ilmu pengetahuan, pariwisata dan prevensi bencana.

Kementerian mengatakan kesepakatan tersebut ditandatangani Duta Besar China untuk Myanmar pada Senin (9/11) lalu. Di media sosial Facebook, Kedutaan Besar China mengkonfirmasi kesepakatan tersebut.

Oposisi junta Myanmar menuduh Beijing mendukung kudeta militer yang menangkap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Beijing membantah tuduhan tersebut dan mengatakan mendukung diplomasi regional untuk mengatasi krisis itu.

Negara-negara Barat masih memberikan bantuan darurat untuk Myanmar. Hal itu termasuk bantuan sebesar 50 juta dolar AS untuk membantu organisasi kemanusiaan di Myanmar dalam menghadapi melonjaknya kasus infeksi Covid-19.

Pengaruh China di Myanmar beberapa tahun terakhir semakin kuat. Negeri Tirai Bambu membuka jalur pipa gas dan minyak di negara itu dan zona ekonomi. Beijing juga membangun pelabuhan besar di Myanmar.  

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA