Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Ini Kata Psikologis Soal Tren Pamer Saldo ATM di Medsos

Rabu 11 Aug 2021 04:40 WIB

Red: Nidia Zuraya

Warga keluar dari mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) usai melakukan transaksi. ilustrasi

Warga keluar dari mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) usai melakukan transaksi. ilustrasi

Foto: Antara/Abriawan Abhe
Pandemi Covid-19 menimbulkan kebiasaan baru di masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pamer saldo tabungan yang sekarang tren di media sosial melalui tantangan review saldo ATM dinilai bisa menimbulkan dampak buruk secara psikologis bagi masyarakat, apalagi di tengah kondisi sulit masa pandemi sekarang ini."Ada orang yang dapat menerima tren tersebut dengan reaksi biasa, ada yang menjadi terbeban, ada yang menjadi iri atau bahkan tertekan," kata psikolog dari Universitas Indonesia, A Kasandra Putranto, Selasa (10/8).

Menurut Kasandra, fenomena itu ramai di media sosial akibat ulah sebagian masyarakat yang berlomba-lomba mengejar ketenaran dan keberuntungan. Pandemi Covid-19 tak hanya menimbulkan kebiasaan baru di masyarakat. 

Tekanan akibat pembatasan aktivitas sosial secara fisik, termasuk work from home menjadi salah satu faktor munculnya tren-tren baru pada masyarakat, khususnya di media sosial. Salah satunya yang sedang viral adalah pamer saldo ATM di media sosial Tik Tok.

"Pada dasarnya, di masa kini, semua orang berlomba-lomba mengejar fame and fortune (ketenaran dan keberuntungan). Berbagai upaya dimaksimalkan untuk menggapai cita-cita tersebut di era digital ini," katanya.

Risiko yang bisa dialami masyarakat akibat tren itu, menurut Kasandra, bermacam-macam tergantung dari kondisi psikologis masing-masing orang. Namun yang jelas, tren itu bisa menimbulkan bagai efek bagi masyarakat.

Menurut Kasandra, media sosial dan aktivitas di dalamnya sangat berdampak besar bagi kesehatan mental seseorang. "Sekarang muncul fenomena adiksi medsos yang membuat seseorang terganggu fungsi kehidupannya, sehingga lalai melakukan hal-hal penting dalam hidupnya," jelas Kasandra memberikan contoh.

"Serba instan, ingin segera memperoleh apa yang diinginkan, bahkan banyak kejahatan mengintai di balik media sosial. Mulai dari kekerasan (fisik), kekerasan seksual, penipuan, perampokan, judi online, sampai ancaman pembunuhan," tuturnya.

Beraktivitas di media sosial berlebihan dan bukan untuk hal-hal positif, Kasandra menegaskan, bisa menimbulkan dampak buruk psikologis. Banyak dari sebagian masyarakat yang merasa stres akibat terlalu banyak terpapar medsos.Itulah alasan mengapa harus membatasi aktivitas tidak perlu di media sosial. 

Jika sudah sampai merasa stres, Kasandra menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater. "Tetapi tentu saja lebih baik mencegah daripada mengobati."

Kasandra juga mengingatkan orang-orang yang terlibat dalam pamer saldo ATM untuk tetap membayar pajak penghasilan yang diperoleh."Jangan lupa pamer saldo bakal dikejar Ditjen Pajak lho ya. Jangan lupa lapor pajak untuk setiap penghasilan yang diperoleh. Karena pajak digunakan untuk membangun negeri," kata Kasandra menambahkan.

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA