Senin 09 Aug 2021 19:45 WIB

Saat Hijrah Baru Setengah Jalan

Sejatinya hijrah bukanlah perintah yang mudah, keimanan muslimin benar-benar diuji.

Hijrah, ilustrasi. Hijrah bukanlah perintah yang mudah. Keimanan muslimin benar-benar diuji.
Hijrah, ilustrasi. Hijrah bukanlah perintah yang mudah. Keimanan muslimin benar-benar diuji.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, Direktur Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa

Ketika perintah hijrah telah turun dan tersampaikan, maka muslimin secara bergelombang hijrah ke Madinah. Sejatinya, hijrah bukanlah perintah yang mudah. Keimanan muslimin benar-benar diuji. Hijrah menyebabkan muslimin harus rela meninggalkan semua harta dan asetnya di Mekah. Hijrah juga menyebabkan terpisahnya muslimin dengan keluarganya yang masih kafir.

Baca Juga

Selain itu, perjalanan Mekah ke Madinah sekira 487 kilometer (km) bukanlah perjalanan sederhana untuk ditempuh. Perlu kekuatan fisik dan perbekalan. Karenanya, ada golongan yang mendapat rukhshah (keringanan) untuk tidak berhijrah, yaitu laki-laki dan perempuan yang lemah, juga anak-anak yang tidak memiliki daya upaya serta tidak mengetahui jalan untuk berhijrah (QS. An-Nisa [4]: 98).

Mereka inilah golongan yang mudah-mudahan Allah memberikan pemaafan kepada mereka. Namun demikian, penggunaan kata ‘asa pada ayat 99 surat An-Nisa yang menjelaskan pengharapan pemberian maaf dari Allah, menunjukkan makna bahwa pikirkanlah berulang-ulang apakah kalian benar-benar tidak mampu berhijrah? Apakah kalian benar-benar termasuk golongan yang diberikan keringanan untuk tidak berhijrah?

Salah satu muslimin yang tidak berhijrah adalah Dhamrah bin Jundub. Usianya memang tidak muda, 85 tahun. Tentu saja ia termasuk golongan yang diberikan keringanan untuk tidak berhijrah. Namun, nyatanya Dhamrah tidak tenang tinggal di Mekah. Ia membayangkan betapa indah dan nikmatnya hidup di Madinah bersama Rasulullah. Alangkah syahdunya shalat berjama’ah di belakang Rasulullah di Masjid Nabawi.

Dhamrah kembali merenungi ayat-ayat Alquran tentang perintah hijrah itu. Perhatiannya tertumpu pada lafadz “walaa yahtaduuna sabiila” (mereka yang tidak mengetahui jalan). Dhamrah gelisah. Ia berpikir dalam. Ia memang sudah tua, namun ia tahu jalan dari Mekah menuju Madinah. Jangan-jangan dirinya tidak termasuk orang yang diberikan keringanan oleh Allah, sehingga tidak berhak atas pemaafan dari-Nya.

Dhamrah berpikir berulang-ulang, apakah ia harus menyusul hijrah ataukah tetap tinggal di Mekah? Keluarganya menyarankan agar Dhamrah tetap tinggal di Mekah. Usianya yang sudah renta, tidak memungkinkan melakukan perjalanan sejauh itu. Namun, akhirnya Dhamrah membulatkan tekad untuk berhijrah ke Madinah. Perbekalanan disiapkan untuk mengarungi perjalanan sejauh 487 km.

Pada hari yang ditentukan, Dhamrah hijrah meninggalkan kampung halamannya, Mekah, menuju kota nabi yang bercahaya, Madinah Al-Munawarah. Takdir Allah SWT menjumpainya. Baru setengah perjalanan hijrah, kematian menjemput Dhamrah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement