Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

Pertumbuhan Ekonomi tak Sekadar Angka

Senin 09 Aug 2021 04:28 WIB

Red: Joko Sadewo

Sejumlah pekerja PT. Panggung Jaya Indah Textile yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) melakukan unjuk rasa di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (22/9/2020). Aksi yang diikuti oleh sekitar 500 pekerja itu menuntut keadilan atas ratusan pekerja yang di Putus Hubungan Kerja (PHK) saat pandemi COVID-19 yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sejumlah pekerja PT. Panggung Jaya Indah Textile yang tergabung dalam Serikat Pekerja Nasional (SPN) melakukan unjuk rasa di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (22/9/2020). Aksi yang diikuti oleh sekitar 500 pekerja itu menuntut keadilan atas ratusan pekerja yang di Putus Hubungan Kerja (PHK) saat pandemi COVID-19 yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Foto: ANTARA/Harviyan Perdana Putra
Tren pertumbuhan positif bukan berarti ekonomi Indonesia secara riil sudah bagus.

Oleh : Teguh Firmansyah, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali memasuki zona positif setelah tiga kuartal terdahulu minus secara berturut-turut. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2021 mencapai 7,07 persen (year on year).

Capaian ini merupakan sinyal baik bahwa ekonomi sudah bergerak. Hal itu terlihat dari membaiknya sektor konsumsi rumah tangga, kinerja ekspor, investasi, maupun dari belanja pemerintah.

Konsumsi rumah tangga positif 5,39 persen menunjukkan bahwa perputaran uang di akar rumput sudah lebih baik. Mobilitas masyarakat juga terlihat sudah mengalami peningkatan.

Kemudian belanja pemerintah 8,06 persen memperlihatkan beragam insentif terus dikucurkan untuk menggerakkan ekonomi. Selanjutnya, ekspor dan impor yang mampu tembus 30 persen menunjukkan bahwa Indonesia bisa mengambil peluang dari negara-negara lain yang sudah mulai bergerak pulih seperti China dan AS.

Pun dari sisi sektoral, berbagai sektor perindustrian dan perdagangan juga sudah bergeliat, dari mulai industri pengolahan, makanan dan minuman, hingga transportasi/pergudangan juga mulai tumbuh.

Namun tren positif ini bukan berarti ekonomi Indonesia secara riil sudah bagus. Karena harus diakui pertumbuhan positif pada kuartal kedua kali ini juga lebih disebabkan oleh baseline atau patokan kuartal kedua tahun lalu yang berada pada puncak resesi. Triwulan kedua tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32 persen dan menjadi salah satu yang terburuk di sepanjang sejarah.

Pada tahun itu, pemerintah menerapkan PSBB yang dimulai sejak April atau awal perhitungan triwulan kedua untuk merespons penyebaran Covid-19. Adapun tahun ini PPKM Darurat dilakukan terasa pada Juli yang masuk dalam perhitungan kuartal ketiga. Artinya, perekonomian pada kuartal selanjutnya bisa jadi akan melambat.

Namun hal yang juga mesti ditekankan dalam pertumbuhan ekonomi adalah bagaimana pertumbuhan itu mampu meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa Pandemi Covid-19 telah banyak membuat karyawan kehilangan pekerjaan atau pengusaha yang terpaksa tutup.

Kemenaker mencatat bawah ada 29 juta orang terdampak pandemi. Termasuk di antara mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja, dirumahkan tanpa upah, hingga pengurangan jam kerja dan upah.

Tantangan pada penciptaan pertumbuhan kali ini bukan hanya pada seberapa besar angka pertumbuhan itu, namun bagaimana pertumbuhan itu bisa lebih berkualitas sehingga banyak menyerap sektor tenaga kerja. Kemudian, bagaimana pertumbuhan itu mampu dirasakan secara merata dari kota ke desa.

Menteri BKPM, Bahlil Lahadalia dalam satu kesempatan mengakui jika tingkat penyerapan angka pertumbuhan semakin kecil. Jika pada 2013 setiap satu persen pertumbuhan ekonomi mampu menyerap 270 ribu maka saat ini dengan digitalasasi setiap satu persen tak lebih dari 110 ribu. Artinya apa, tujuh persen belum mampu menyerap semua mereka yang kehilangan pekerjaan.

Jika kita lihat struktur ekonomi secara sektoral pada kuartal ini menurut lapangan usaha, maka sektor transportasi dan pergudangan termasuk yang paling melejit pertumbuhannya hingga 25,2 persen. Kondisi itu tak terlepas dari peningkatan pergerakan penumpang maupun semakin banyaknya orang yang memanfaatkan jasa pengiriman.

Namun penyerapan tenaga kerja di sektor ini tidaklah sebagus di bidang industri pengolahan atau perdagangan besar. Sektor industri pengolahan pada kuartal kedua hanya mampu tumbuh 6,58 persen setelah sebelumnya minus 6,18 persen pada kuartal kedua tahun lalu. Begitu juga di sektor pertanian yang hanya tumbuh 0,38 persen.

Oleh karena itu, tugas berat ke depan, bukan hanya sekadar menghasilkan angka-angka pertumbuhan yang fantastis, namun bagaimana me-redesign struktur ekonomi agar mampu menyerap tenaga kerja yang lebih besar.

Perlu ada kerja keras untuk melahirkan industriawan-industriawan baru yang mampu melahirkan inovasi unggul berkelas dunia. Tingkat produktivitas juga harus digenjot sehingga RI tak hanya tergantung dari eskpor nonmigas primer, seperti kepala sawit dan mineral.

Kalangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang selama ini memainkan peran penting dalam ekonomi perlu terus didorong agar naik kelas, sehingga dampaknya terhadap kue ekonomi juga lebih besar. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi ini benar-benar berkualitas dan bisa menyerap mereka yang terkena PHK akibat pandemi atau pencari kerja baru.

Namun bagaimana pun, upaya pemulihan ekonomi tidak akan berhasil, jika kita tak bisa menjinakkan Pandemi Covid-19 terlebih dulu. Bila Covid ini sudah bisa diatasi, maka pemulihan ekonomi bisa berjalan dengan mulus. Jika tidak, maka sebaliknya, ekonomi kita sulit untuk maju.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA