Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Studi: Vegan Diet Turunkan Risiko Penyakit Jantung 52 Persen

Jumat 06 Aug 2021 03:50 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Vegan diet.  Studi mengungkapkan pola makan nabati atau vegan diet dapat memangkas risiko penyakit jantung hingga 52 persen.

Vegan diet. Studi mengungkapkan pola makan nabati atau vegan diet dapat memangkas risiko penyakit jantung hingga 52 persen.

Foto: Flickr
Pola makan nabati penuh nutrisi juga turunkan tekanan darah dan berat badan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi mengungkapkan pola makan nabati atau vegan diet dapat memangkas risiko penyakit jantung hingga 52 persen. Sebab, makanan nabati terdiri dari berbagai buah dan sayuran, biji-bijian, produk susu rendah lemak, ikan, ayam tanpa kulit, kacang-kacangan dan polong-polongan.

"Pola makan nabati yang kaya nutrisi bermanfaat untuk kesehatan jantung. Selain itu dapat menurunkan tekanan darah, kolesterol dan membantu Anda menurunkan berat badan," kata Penulis Utama Yuni Choi dikutip dari dailymail.co.uk pada Kamis (5/8).

Kemudian, ia melanjutkan diet yang berpusat pada tumbuhan belum tentu vegetarian.  Orang dapat memilih di antara makanan nabati yang sedekat mungkin dengan alam, tidak terlalu diproses.

"Kami berpikir kalau individu dapat memasukkan produk hewani dalam jumlah sedang dari waktu ke waktu, seperti unggas yang tidak digoreng, ikan yang tidak digoreng, telur dan produk susu rendah lemak," kata dia.

Berdasarkan skor kualitas Diet A Priori (APDQS) terdiri dari 46 kelompok makanan yang dibagi menjadi makanan bermanfaat seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, kacang-kacangan dan biji-bijian. Makanan yang merugikan seperti kentang goreng, daging merah tinggi lemak, makanan ringan asin, kue kering dan minuman ringan. Serta makanan netral seperti kentang, biji-bijian olahan, daging tanpa lemak dan kerang.

"Ini dilakukan berdasarkan hubungan mereka dengan penyakit jantung.Orang-orang yang mendapat skor lebih tinggi makan berbagai makanan bermanfaat yang sebagian besar terdiri dari pola makan nabati, sementara mereka yang mendapat skor lebih rendah makan lebih banyak makanan yang merugikan," kata dia.

Selama 32 tahun masa tindak lanjut, para peneliti menemukan 289 orang yang terlibat dalam penelitian ini mengembangkan penyakit jantung termasuk serangan jantung, stroke, gagal jantung, nyeri dada yang berhubungan dengan jantung atau arteri yang tersumbat.

Mereka juga menemukan mereka yang mendapat skor 20 persen teratas pada skor kualitas diet jangka panjang artinya mereka makan makanan nabati yang paling kaya nutrisi dan lebih sedikit produk hewani yang dinilai buruk. 52 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan penyakit jantung.

Sementara itu, Rekan Penulis David E. Jacobs mengatakan berlawanan dengan skor kualitas diet yang ada yang biasanya didasarkan pada sejumlah kecil kelompok makanan, APDQS secara eksplisit menangkap kualitas keseluruhan diet menggunakan 46 kelompok makanan individu, menggambarkan keseluruhan diet yang umumnya  yang biasa dikonsumsi penduduk.

"Skor kami sangat komprehensif, dan memiliki banyak kesamaan dengan diet seperti Dietary Guidelines for American Healthy Eating Index (dari Layanan Makanan dan Gizi Departemen Pertanian AS), diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dan diet Mediterania,"kata dia.

Lalu, sebuah studi terpisah yang diterbitkan bulan lalu menemukan makan daging merah dan olahan seperti bacon, sosis dan ham secara signifikan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Menganalisis data dari 13 penelitian berbeda yang melibatkan 1,4 juta orang memungkinkan tim dari Universitas Oxford untuk meneliti dampak daging terhadap kesehatan. 

Mereka menemukan untuk setiap 50 gram daging olahan per hari, seperti bacon, ham, dan sosis yang dimakan, risiko penyakit jantung koroner meningkat sebesar 18 persen. Untuk daging yang tidak diproses seperti babi, domba dan sapi, risikonya meningkat sembilan persen dibandingkan tanpa daging merah. Tidak ada peningkatan risiko dengan unggas.

Tim mengatakan penelitian mereka tidak menyelidiki penyebabnya tetapi menyarankan itu bisa menjadi konsentrasi lemak jenuh yang lebih tinggi dalam daging merah dan garam dalam daging olahan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA