Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Peneliti Kemenkes: Makan Secara Emosional Picu Dislipidemia

Jumat 06 Aug 2021 03:40 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Diabetes (ilustrasi).  Peneliti Upaya Kesehatan Masyarakat Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Nazarina mengatakan kasus penyakit diabetes terus meningkat di Indonesia. Salah satu komplikasi diabetes yang dapat dialami adalah penyakit kardiovakuler.

Diabetes (ilustrasi). Peneliti Upaya Kesehatan Masyarakat Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Nazarina mengatakan kasus penyakit diabetes terus meningkat di Indonesia. Salah satu komplikasi diabetes yang dapat dialami adalah penyakit kardiovakuler.

Foto: Essential Health Info
Dislipidemia terjadi pada pasien diabetes yang ditimbulkan akibat makan emosional

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Upaya Kesehatan Masyarakat Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Nazarina mengatakan kasus penyakit diabetes terus meningkat di Indonesia. Salah satu komplikasi diabetes yang dapat dialami adalah penyakit kardiovakuler.

Penyakit ini pada umumnya ditandai terlebih dahulu dengan dislipidemia. Pemicu dislipidemia salah satunya adalah kebiasaan makan secara emosional.

"Pada diabetes, dislipidemia yang terjadi sangat khas, yaitu tingginya kadar trigliserid dan rendahnya kadar HDL-kolesterol, sedangkan LDL- kolesterol lebih dilihat pada densitas partikel LDL-kolesterol yang kecil dan padat. Dimungkinkan hal tersebut karena perilaku makan penyandang diabetes yang resisten terhadap perubahan diet," katanya kepada Republika, Kamis (5/8).

Kemudian, ia melanjutkan perilaku makan eksternal dan emosional bisa memicu penyakit dislipidemia. Sehingga penyandang diabetes harus bisa menahan diri dan menjaga pola makan sesuai anjuran dokter atau tenaga kesehatan (nakes).

Ia menjelaskan perilaku makan eksternal (jajan) merupakan suatu perilaku makan bila seseorang ingin makan atau makan makanan sebagai respon adanya tanda-tanda kehadiran suatu makanan, misalnya melihat makanan, mencium bau makanan dan mendengar orang makan.

Ia mencontohkan saat melihat lauk seperti ayam atau tahu goreng ada di atas meja, maka ingin makan atau bahkan langsung dimakan. Hal tersebut dapat pula terjadi saat melihat makanan atau gorengan pada pedagang makanan.

Sedangkan perilaku makan emosional adalah perilaku makan sebagai respon emosi negatif dalam menghadapi suatu masalah yang dihadapi. Biasanya respon emosi negatif dapat menyebabkan seseorang banyak makan atau ngemil untuk melampiaskan emosi negatif tersebut. Karena bagi mereka makan memberikan kesenangan. 

Ia menyarankan agar penyandang diabetes yang memiliki perilaku makan eksternal sebaiknya berusaha menahan diri untuk tidak makan makanan yang dilihatnya atau tercium baunya. Dalam hal ini dukungan keluarga sangat diperlukan untuk menyimpan makanan dalam kondisi tertutup. 

"Untuk perilaku makan emosional, bagi yang melakukan melampiaskan emosi negatif dengan makan, sebaiknya melakukan hal-hal yang positif seperti mengaji bagi muslim atau berkunjung kekerabat," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA