Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

4,4 juta Orang di Nigeria Timur Terancam Rawan Pangan Akut

Kamis 05 Aug 2021 01:33 WIB

Red: Nur Aini

Sekitar 4,4 juta orang di timur laut Nigeria kemungkinan besar akan menghadapi krisis pangan dan kelaparan akut karena meningkatnya serangan oleh kelompok teroris Boko Haram dan migrasi petani.

Sekitar 4,4 juta orang di timur laut Nigeria kemungkinan besar akan menghadapi krisis pangan dan kelaparan akut karena meningkatnya serangan oleh kelompok teroris Boko Haram dan migrasi petani.

Petani berbondong-bondong mengungsi karena kekerasan yang dilancarkan Boko Haram

REPUBLIKA.CO.ID, MAIDUGURI -- Sekitar 4,4 juta orang di timur laut Nigeria kemungkinan besar akan menghadapi krisis pangan dan kelaparan akut karena meningkatnya serangan oleh kelompok teroris Boko Haram dan migrasi petani.

Esty Sutyoko, wakil kepala Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) Nigeria, mengatakan hilangnya mata pencaharian selama lebih dari satu dekade kekerasan dan pandemi Covid-19 telah memicu kerawanan pangan di wilayah tersebut.

Baca Juga

Dia mengatakan tantangan itu membutuhkan kolaborasi antara pihak berwenang di Nigeria dan organisasi dan badan kemanusiaan di negara itu. Sekitar tiga juta orang telah mengungsi di negara bagian timur laut Adamawa, Borno, dan Yobe menyusul serangan Boko Haram.

Gubernur Borno Babagana Zulum mengatakan pemerintah negara bagian mulai membuka kembali lahan pertanian untuk petani untuk mencegah krisis pangan.

"Salah satu cara untuk mengakhiri krisis ini adalah dengan mengembalikan orang-orang ke kampung halaman mereka, membuka lahan pertanian baru, dan mewujudkan ketahanan pangan," kata dia selama kunjungannya di sepanjang perbatasan negara dengan Niger.

 

sumber : https://www.aa.com.tr/id/dunia/4-4-juta-orang-di-nigeria-timur-terancam-rawan-pangan-akut/2324229
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA