Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Turki Minta Bantuan Uni Eropa Atasi Kebakaran Hutan

Rabu 04 Aug 2021 03:30 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Dwi Murdaningsih

 Hutan yang terbakar di kawasan Mazi yang diselimuti asap saat kebakaran hutan bergulung menuruni bukit menuju pantai, memaksa orang untuk dievakuasi, di Bodrum, Mugla, Turki, Minggu, 1 Agustus 2021. Lebih dari 100 kebakaran hutan telah dikendalikan di Turki, menurut para pejabat. Menteri kehutanan mentweet bahwa lima kebakaran terus berlanjut di tujuan wisata Antalya dan Mugla.

Hutan yang terbakar di kawasan Mazi yang diselimuti asap saat kebakaran hutan bergulung menuruni bukit menuju pantai, memaksa orang untuk dievakuasi, di Bodrum, Mugla, Turki, Minggu, 1 Agustus 2021. Lebih dari 100 kebakaran hutan telah dikendalikan di Turki, menurut para pejabat. Menteri kehutanan mentweet bahwa lima kebakaran terus berlanjut di tujuan wisata Antalya dan Mugla.

Foto: AP/Emre Tazegul
Turki mengalami kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Turki meminta bantuan dari Uni Eropa (UE) untuk mengatasi kebakaran hutan yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara itu. Pemerintah Turki mengaktifkan Mekanisme Perlindungan Sipil Uni Eropa untuk meminta dukungan pemadam kebakaran kepada Komisi Eropa.

Brussels telah mengirim beberapa pesawat pemadam kebakaran, termasuk satu pesawat Canadair dari Kroasia dan dua warga Kanada dari Spanyol sebagai bagian dari rescEU, cadangan aset perlindungan sipil Eropa.

"Uni Eropa berdiri dalam solidaritas penuh dengan Turki pada saat yang sangat sulit ini," kata Komisaris Uni Eropa untuk Manajemen Krisis, Janez Lenarcic, dilansir dari laman Arab News, Selasa (3/8).

"Saya berterima kasih kepada semua negara yang telah menawarkan bantuan. Pikiran kami bersama orang-orang Turki yang kehilangan orang yang mereka cintai dan dengan responden pertama yang berani yang melakukan yang terbaik untuk mengatasi api yang mematikan. Kami siap memberikan bantuan lebih lanjut," ujar Janez.

Portugal, Spanyol, Prancis, Italia, Yunani, dan Kroasia dianggap sebagai negara paling rawan kebakaran di Eropa. Kroasia, Prancis, Yunani, Italia, Spanyol, dan Swedia telah menyediakan 11 pesawat pemadam kebakaran dan enam helikopter untuk digunakan oleh Negara-Negara Anggota UE lainnya dalam keadaan darurat.

Tanggapan terhadap kebakaran hutan telah mengungkapkan bahwa Turki yang memiliki 13 pesawat terbang dalam armada kepresidenan ternyata tidak memiliki satupun pesawat pemadam kebakaran.

Pusat Koordinasi Tanggap Darurat 24/7 Uni Eropa mengadakan kontak rutin dengan pihak berwenang Turki untuk mengamati situasi dan secara efektif memandu bantuannya.

Cigdem Nas, Sekretaris Jenderal Yayasan Pembangunan Ekonomi Turki, mengatakan kepada Arab News bahwa ini adalah pertunjukan solidaritas yang penting di masa-masa sulit ini.

"Sebagai negara-negara di kawasan Mediterania, Turki berbagi efek perubahan iklim yang serupa dengan negara-negara anggota Uni Eropa seperti Yunani dan Italia. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kapasitas dalam menghadapi bencana alam tersebut secara bersama-sama,” ujarnya.

Nas menambahkan bahwa Uni Eropa dan Turki dapat memperkuat kerja sama mereka dalam menanggapi bencana alam, terutama di kawasan Mediterania.

“Ini mungkin merupakan kumpulan sumber daya termasuk pesawat, tenaga manusia, dan peralatan lain yang diperlukan yang dapat digunakan bersama oleh negara-negara di kawasan yang akan disponsori oleh Turki dan Uni Eropa,” katanya.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA