Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Waspada, Kelebihan Berat Badan Picu Diabetes Tipe 2

Selasa 03 Aug 2021 18:56 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Nora Azizah

Sekitar 70 persen pasien diabetes di Indonesia alami kelebihan berat badan.

Sekitar 70 persen pasien diabetes di Indonesia alami kelebihan berat badan.

Foto: www.freepik.com
Sekitar 70 persen pasien diabetes di Indonesia alami kelebihan berat badan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah studi menunjukkan bahwa kelebihan berat badan merupakan faktor risiko utama penyebab diabetes tipe-2. Direktur Indonesian Diabetes Institute Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FINASIM, FACE menyampaikan studi yang menunjukkan bahwa sekitar 70 persen pasien diabetes di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

"Padahal, obesitas dapat meningkatkan risiko kematian yang diakibatkan oleh penyakit komorbid," ungkapnya dalam siaran pers yang diterima republika.co.id, Selasa (3/8).

Indeks massa tubuh (body mass index, BMI) yang tinggi dapat meningkatkan risiko kematian yang tinggi pula, yang sebagian besar diakibatkan oleh komplikasi penyakit kardiovaskular. Namun, meskipun sudah menerapkan perubahan gaya hidup, beberapa pasien masih mengalami kesulitan mengurangi berat badan mereka. Diabetes dan kelebihan berat badan ataupun obesitas akan menjadi faktor risiko utama penyebab penyakit kardiovaskular.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) Dr. dr. Sally A. Nasution, Sp.PD-KKV, FINASIM, FACP mengatakan berdasarkan data dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), tingkat kematian di Indonesia kini disebabkan oleh penyakit tidak menular dan terkait dengan diabetes.

"Sementara itu, studi lain menunjukkan bahwa sekitar 75 persen pasien diabetes tipe-2 berisiko terkena penyakit kardiovaskular,” katanya.

Penyakit ginjal
Tak hanya risiko penyakit kardiovaskular, diabetes juga dapat menyebabkan penyakit ginjal kronis. Glukosa darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah di ginjal. Ketika pembuluh darah rusak, ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik. Banyak orang dengan diabetes juga mengalami tekanan darah tinggi, yang juga dapat merusak ginjal.

Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) dr. Aida Lydia, Sp.PD-KGH, Ph.D, FINASIM menyampaikan, diabetes adalah salah satu penyebab terjadinya penyakit ginjal stadium akhir (end-stage renal disease, ESRD) yang membutuhkan hemodialisa atau transplantasi ginjal. Menurut Indonesian Renal Registry tahun 2019, 26 persen penyakit ginjal kronis disebabkan oleh nefropati diabetik.

"Kini, nefropati diabetik menjadi penyebab penyakit ginjal kronis tertinggi kedua setelah hipertensi di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA