Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Kegagalan Pemerintah Dorong Krisis Politik Tunisia

Senin 02 Aug 2021 16:38 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Presiden Tunisia Kais Saied melambai kepada para pengamat saat ia berjalan di sepanjang jalan Bourguiba di Tunis, Tunisia, Minggu, 1 Agustus 2021.

Presiden Tunisia Kais Saied melambai kepada para pengamat saat ia berjalan di sepanjang jalan Bourguiba di Tunis, Tunisia, Minggu, 1 Agustus 2021.

Foto: AP/Slim Abid/Tunisian Presidency
Rakyat Tunisia marah atas kegagalan pemerintah mengatasi pandemi Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, TUNIS -- Sambil menunggu antrean vaksin Covid-19 yang didistribusikan militer, seorang warga Tunisia Zubeir Bin Ammar mengungkapkan keraguannya pada militer dan Presiden Kais Saied. Ia tidak yakin mereka akan berhasil setelah pemerintah yang mereka singkirkan gagal.

"Semoga Allah memberkati tentara dan presiden, saya berharap mereka membiarkannya berkuasa karena kami hidup di negara yang dikuasai mafia," kata Bin Ammar, seperti dikutip Middle East Monitor, Senin (2/8).

Baca Juga

Laki-laki yang berprofesi sebagai guru itu tidak menilai tindakan Saied pada 25 Juli lalu adalah kudeta dan ancaman terhadap demokrasi Tunisia yang masih muda. Seperti yang diungkapkan para oposisinya.

"Ia mengikuti rakyat di jalan bukan partai politik," kata Bin Ammar yang sudah berkeluarga dan tinggal di Jendouba, 150 kilometer dari ibu kota Tunis.

Masyarakat Tunisia marah atas kegagalan pemerintah dalam mengatasi pandemi Covid-19. Demonstrasi besar-besaran mendorong Saied memecat Perdana Menteri Hichem Mechichi dan menangguhkan parlemen. 

Militer mendukung langkah tersebut. Didorong kelesuan ekonomi yang mendalam lalu ditambah pandemi Covid-19, rakyat Tunisia turun ke jalan untuk menentang pemerintah dan partai politik di parlemen termasuk partai Islam yang berkuasa, Ennahda.

Sejauh ini baru 940 ribu dari 11,6 juta rakyat Tunisia yang sudah menerima dua dosis vaksin Covid-19. Tunisia melaporkan 18 ribu kasus kematian akibat virus korona dan lebih dari setengah juta kasus infeksi.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA