Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Menkes Sebut Kebutuhan Obat tak Bisa Dikejar dengan Produksi

Senin 02 Aug 2021 16:12 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Mas Alamil Huda

Apoteker memperlihatkan salah satu obat Covid-19 di salah satu apotek di Manado, Sulawesi Utara, Ahad (25/7). Apoteker mewajibkan warga yang ingin membeli sebelas jenis obat-obatan Covid-19 dengan membawa resep dokter sebagai upaya menjaga ketersediaan stok obat yang terbatas, serta untuk mencegah pembelian dalam jumlah banyak yang berpotensi dijual kembali melebihi HET (harga eceran tertinggi) yang telah ditentukan pemerintah.

Apoteker memperlihatkan salah satu obat Covid-19 di salah satu apotek di Manado, Sulawesi Utara, Ahad (25/7). Apoteker mewajibkan warga yang ingin membeli sebelas jenis obat-obatan Covid-19 dengan membawa resep dokter sebagai upaya menjaga ketersediaan stok obat yang terbatas, serta untuk mencegah pembelian dalam jumlah banyak yang berpotensi dijual kembali melebihi HET (harga eceran tertinggi) yang telah ditentukan pemerintah.

Foto: ANTARA/ADWIT B PRAMONO
Tingginya permintaan obat tidak bisa diimbangi dengan kecepatan produksi obat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengakui obat terapi Covid-19 di apotek Tanah Air kini banyak yang kosong. Tingginya permintaan obat tidak bisa diimbangi dengan kecepatan produksi obat perusahaan farmasi di Indonesia.

Budi mengatakan, banyak obat-obatan untuk terapi Covid-19 yang dicari dan dipertanyakan, namun tidak ada karena kosong. "Bahkan presiden Joko Widodo juga menyampaikan kepada kami (mengenai kosongnya obat terapi Covid-19 di apotek)," ujarnya saat konferensi virtual Kemenkes, Senin (2/8).

Untuk mengetahui penyebab masalah ini, kata Budi, Kemenkes sudah berbicara dengan Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi hingga beberapa kali. Dari pertemuan itu, Kemenkes mendapat pengakuan dari GP Farmasi bahwa kebutuhan obat Covid-19 naik luar biasa sejak 1 Juni 2021 lalu.

Padahal, lanjut Budi, GP Farmasi mendapatkan mayoritas bahan baku obat dari impor. Kemudian, GP Farmasi memperkirakan kebutuhan obat naik delapan kali lipat. Begitu bahan baku masuk ke Indonesia dan masih diproses ternyata kebutuhan sudah kembali meningkat delapan kali lipat. Saat proses produksi obat masih belum selesai, ternyata kebutuhan melonjak hingga belasan kali lipat. 

"Jadi, kebutuhan obat tidak bisa dikejar dengan kecepatan produksi karena sejak produksi hingga obat dalam bentuk jadi (membutuhkan waktu). Impor bahan baku, proses produksi, kemudian pendistribusian ke seluruh apotek butuh waktu sekitar empat hingga enam pekan," katanya.

Menurut Menkes, permintaan obat tumbuh dengan cepat namun industri farmasi Indonesia belum siap. Terkait impor obat untuk memenuhi kebutuhan, Budi mengaku upaya itu juga butuh waktu. Beruntung, sekarang hasil produksi dalam negeri dari GP Farmasi telah beredar dan beberapa obat Covid-19 dari luar negeri kini masuk.

Budi mengatakan, obat impor yang masuk Indonesia di antaranya seperti Remdesivir, Tocilizumab 400 mg/20 ml hingga Intravenous immunoglobulin 5 persen 50 ml. "Di pekan pertama sudah Agustus mulai banyak (obat Covid-19 impor) yang masuk. Kami terus monitor stok dan kebutuhannya selama Agustus," katanya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA