Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Mualaf Rahmat, Bersyahadat dan Sukses Belajar di Madinah

Senin 02 Aug 2021 05:45 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Puasa Ramadhan menjadi pintu gerbang Islamnya Rahmat Hidayat. Rahmad Hidayat

Foto:
Puasa Ramadhan menjadi pintu gerbang Islamnya Rahmat Hidayat

Setelah lulus pondok pesantren, Rahmat berniat untuk melanjutkan pendidikan. Namun, ia sempat ragu karena tidak memiliki biaya kuliah. Ia pun tak ingin membebani ibu angkat nya yang sudah cukup banyak membantunya. 

Rahmat kemudian menemui kakak perempuannya yang pertama-tama menawarkannya ongkos kuliah. Tawaran itu bagaikan oasis di tengah padang sahara. Sayangnya, sang kakak menyimpan pamrih. Rahmat memang ditawari beasiswa, tetapi dengan syarat, dirinya harus kembali ke agama lama. Dengan tegas, Rahmat menolak hal itu. 

Rahmat kemudian mencoba untuk mengikuti audisi dai muda di salah satu stasiun televisi swasta. Setelah lolos audisi untuk wilayah Medan, dirinya pun lolos hingga ke Jakarta. Namun, perjalanannya dalam proses tersebut hanya sampai pada delapan besar. 

Ia pun kembali ke daerah asalnya. Karena tak juga menemukan kesempatan beasiswa, Rahmat dan seorang temannya mencoba peruntungan. Mereka merantau ke Jakarta. Pada 2014, berbekal kemampuan yang ada ia mendaftar beasiswa S-1 ke Madinah, Arab Saudi. 

Setahun lebih dirinya menunggu, ternyata doanya dikabulkan Allah SWT. Rahmat dinyatakan lolos seleksi. Ia pun berangkat ke Tanah Suci bersama 90 peserta lainnya. Ia saat itu merasa, kemampuannya tidaklah setara dengan rekan-rekannya yang hafiz 30 juz Alquran. Bagaimanapun, Rahmat tetap optimistis karena pada faktanya ia pun ikut terpilih. Selama empat tahun Rahmat menempuh pendidikan di Kota Nabi itu. 

Banyak ilmu dan keberkahan di sana. Setiap tahun, Rahmat bisa menjalankan ibadah umroh dan haji tanpa biaya. Ia juga berhasil menyelesaikan pendidikannya tepat waktu. Begitu lulus dari kampusnya, ia kembali ke Tanah Air. Selama dirinya menempuh studi di luar negeri, ternyata hati kedua orang tuanya mulai luluh. Bahkan, mereka merasa bangga dengan prestasi yang dicapai Rahmat. 

Itu tentu saja membuatnya bahagia. Sayangnya, orang tuanya wafat dalam keadaan tak kunjung mendapatkan hidayah dari Allah. Meski demikian, Rahmat tetap bersyukur karena silaturahim terjalin kembali. Bahkan, ada seorang kakaknya yang kemudian tergerak hati untuk memeluk Islam. 

 

Setelah lulus kuliah 2019 lalu, Rahmat menetap di Jakarta dan telah menikah. Kini Rahmat menghabiskan waktunya untuk ber dakwah di jalan Allah.    

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA