Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Mualaf Rahmat, Bersyahadat dan Sukses Belajar di Madinah

Senin 02 Aug 2021 05:45 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Puasa Ramadhan menjadi pintu gerbang Islamnya Rahmat Hidayat. Rahmad Hidayat

Foto:
Puasa Ramadhan menjadi pintu gerbang Islamnya Rahmat Hidayat

Sepanjang pergaulannya dengan mereka, Rahmat mulai mengetahui dan mengenal beberapa ajaran Islam. Lamakelamaan, ia pun tertarik mempelajari agama yang mengajarkan bahwa Tuhan hanyalah satu, yakni Allah SWT, itu.  

Waktu silih berganti. Tibalah bulan suci Ramadhan. Rahmat muda memperhatikan, kawan-kawannya yang Muslim mengamalkan puasa. Mereka tidak makan dan minum sejak pagi hingga azan maghrib berkumandang. Selain itu, teman-temannya itu tampak semakin rajin beribadah di masjid. 

Waktu itu, Rahmat sangat tertarik untuk mengetahui seluk-beluk puasa Ramadhan. Tiap ada kesempatan, dirinya pun bertanya kepada seorang atau dua orang temannya. Ia kerap heran, mengapa Islam mengharuskan umatnya untuk menahan lapar dan dahaga seharian, selama sebulan penuh pula.    

Puasa memang bukan perkara asing untuk Rahmat saat itu. Di agamanya (yang lama), sudah ada ketentuan untuk berpuasa. Namun, ajaran itu tidak diharuskan untuk pemeluk agama tersebut. Sifatnya semata-mata anjuran, bukan kewajiban. 

“Saya pernah tanya ke kawan-kawan (yang Muslim), mengapa kok kalian itu setiap hari berpuasa gitu setiap bulan Ramadhan, tiap tahun pula,” ujarnya. Keterarikan Rahmat terhadap Islam ternyata belum ditanggapi serius oleh teman-temannya saat itu. Mereka hanya menjawab sekenanya saja, seperti kewajiban orang Islam memang berpuasa saat Ramadhan atau sekadar ya memang begitu.    

Untuk menunjukkan kesungguhannya, Rahmat akhirnya memilih untuk ikut berpuasa. Ia pun mengungkapkan niatnya itu kepada kawan-kawannya yang Muslim. Akan tetapi, maksud tersebut justru menjadi semacam bahan candaan mereka. “Bagaimana bisa orang non-Muslim ikuti-kutan puasa?,” ucap Rahmat meniru perkataan teman-temannya saat itu. 

Akhirnya, seorang sahabatnya memberikan saran. Sebaiknya, Rahmat bertanya kepada orang yang lebih tua. Rahmat pun meminta teman dekatnya itu memberi tahu kepada ibunya. Di kemudian hari ketika akhirnya ia menjadi mualaf, sang ibu tersebut menjadi ibu angkatnya. 

Ya, walaupun belum resmi menjadi Muslim, Rahmat saat itu sudah belajar berpuasa. Satu bulan penuh ia menjalankan ibadah Islam tersebut. “Boleh saya berpuasa, saya 'diizinkan' ikut puasa, sahur, dan buka puasa. Iftarnya disajikan ibu sahabat saya itu, yang akhirnya jadi ibu angkat saya. Tapi, ya waktu itu sifatnya hanya ikut-ikutan saja,” tuturnya.      

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA