Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Mengubah Limbah Plastik Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Sabtu 31 Jul 2021 16:00 WIB

Red: Hiru Muhammad

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Dok.

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Dok.

Foto: Universitas Brawijaya
Limbah plastik sebenarnya berpotensi sebagai minyak bahan bakar.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG--Selama ini limbah plastik selalu menjadi masalah utama dalam problematika persampahan di dunia termasuk Indonesia. Dari sejumlah solusi yang ada, limbah plastik ternyata bisa diubah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. 

Solusi mengubah limbah listrik menjadi bahan bakar ramah lingkungan muncul dari tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB). Mereka antara lain Halifah Salsabila (jurusan kimia), Galuh Wahyu Karti’a (Kimia), dan Fadhilah Al Mardhiyah (Teknik Kimia). Penelitian ketiga mahasiswa ini berada di bawah bimbingan dosen Yuniar Ponco Prananto.

Perwakilan tim, Fadhilah Al Mardhiyah mengatakan, limbah plastik sebenarnya berpotensi sebagai minyak bahan bakar. "Dan ini bisa untuk mengatasi kelangkaan energi berkelanjutan," kata Fadhilah di Kota Malang, Sabtu (31/7).

Berdasarkan catatan penelitian, hasil dari minyak pirolisis sampah plastik memiliki oktan yang cukup rendah. Hasil ini membuat tim harus menambahkan bioaditif dari ekstrak daun jeruk purut. Hal ini karena komponen penyusunnya banyak mengandung oksigen sehingga mampu meningkatkan pembakaran bahan bakar dalam mesin dan nilai oktannya.

Menurut Fadhilah, kandungan oksigen dalam daun jeruk purut dapat memaksimalkan proses pembakaran pada mesin. Hal ini berarti jumlah energi yang dihasilkan akan semakin besar. Dengan demikian, konsumsi bahan bakar pun akan semakin menurun nantinya.

Mahasiswa Halifah Salsabila menambahkan, minyak daun jeruk purut sangat berpotensi menjadi zat aditif untuk bahan bakar minyak. "Hal ini terutama jenis RON 90 (Pertalite) dan RON 88 (Premium)," kata Halifah.

Untuk membuat bahan bakar, Halifah dan tim mencampurkan minyak daun jeruk purut kurang dari satu persen volume minyak hasil pirolisis.  Meskipun hasil penelitian ini masih relatif awal, potensi eksplorasi bahan alam sebagai bioaditif dan formulasi bioaditif dengan sumber bahan bakar minyak lainnya masih terbuka lebar. Terlebih di UB juga terdapat Institut Atsiri yang dapat membantu mahasiswa dan dosen untuk mengeksplor bioaditif ini lebih lanjut.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA