Ahad 01 Aug 2021 05:17 WIB

Serangan Taliban Sebabkan Krisis Eksistensial ke Afganistan

Meningkatnya serangan Taliban dapat menimbulkan ancaman nyata pemerintah Afganistan

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Taliban melawan Pemerintah Afganistan
Taliban melawan Pemerintah Afganistan

Afganistan menghadapi "krisis eksistensial" akibat meningkatnya serangan Taliban menjelang penarikan penuh pasukan Amerika Serikat (AS) dari negara itu, demikian laporan lembaga pengawas AS pada Kamis (28/07).

Penarikan semua militer AS dari Afghanistan diharapkan selesai pada 31 Agustus.

Tetapi analisis yang dilakukan oleh Inspektur Jenderal Khusus AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) mengatakan bahwa serangan Taliban telah meningkat sejak AS mencapai kesepakatan pada Februari 2020 untuk menarik pasukannya setelah hampir dua dekade.

SIGAR adalah badan yang mengawasi upaya pembangunan kembali AS di Afghanistan dan bagaimana dana publik dibelanjakan di sana.

‘Afganistan dapat menghadapi krisis eksistensial‘

Laporan SIGAR menyatakan serangan Taliban terhadap target-target di Afghanistan melonjak dari 6.700 kasus menjadi 13.242 kasus dalam tiga bulan, yaitu pada periode September-November 2020.

Dan setiap periode tiga bulan sejak itu, jumlah serangan masih berada di atas 10.000 kasus, menurut SIGAR.

"Tren keseluruhan ini jelas tidak menguntungkan bagi pemerintah Afganistan yang dapat menghadapi krisis eksistensial jika tidak ditangani dan dibalik," kata inspektur jenderal badan pengawas itu, John Sopko.

Di bawah kesepakatan damai yang disetujui bersama pemerintahan Trump, Taliban sejatinya berjanji bahwa Afganistan tidak akan menjadi ‘‘surga‘‘ bagi kelompok militan itu dan berjanji untuk merundingkan pakta serupa dengan pemerintah Afganistan.

Namun negosiasi damai Taliban dengan pemerintah Kabul terhenti, di saat beberapa ratus tentara AS masih berada di negara itu.

Apa yang terjadi setelah kesepakatan damai AS?

Taliban sekarang menguasai lebih banyak wilayah di Afganistan, sejak mereka digulingkan dari kekuasaan pada 2001 oleh koalisi pimpinan AS.

Laporan SIGAR mengatakan perjanjian Doha - yang dinamai sesuai nama ibu kota Qatar tempat perjanjian itu ditandatangani - berperan dalam memunculkan serangan yang membuat pasukan Afganistan tidak siap. Serangan tersebut menyebabkan peningkatan kematian warga sipil.

Pada kuartal ketiga tahun lalu, ada sebanyak 1.058 kematian dan 1.959 warga yang mengalami luka-luka.

Data terakhir untuk April dan Mei tahun ini, menunjukkan ada 705 kematian warga sipil dan 1.330 korban luka-luka, menurut laporan SIGAR.

Apa isi laporan itu tentang masa depan Afganistan?

Inspektur Jenderal Sopko mengatakan laporan itu menawarkan gambaran serius yang kontras dengan "menyebarnya optimisme yang berlebihan" dari beberapa pejabat pemerintah AS.

"Berita yang keluar dari Afganistan pada kuartal ini suram," tulis laporan itu.

Para pejabat mengutip data AS dan NATO yang menunjukkan hanya ada 510 kematian warga sipil dan 709 korban luka-luka dalam tiga bulan pertama tahun 2020. Tetapi setelah itu jumlahnya melonjak, menurut laporan itu.

Dihadapkan oleh serangan baru Taliban, SIGAR mencatat bahwa tentara Afganistan "tampak terkejut dan tidak siap, dan sekarang mundur."

"Yang sangat mengkhawatirkan adalah kecepatan dan kemudahan Taliban yang tampaknya merebut kendali distrik di provinsi utara Afganistan, yang pernah menjadi benteng sentimen anti-Taliban."

Apa tanggapan negara-negara kuat dunia?

Pada Rabu (28/07), Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan bahwa Taliban akan memainkan peran penting dalam membentuk masa depan Afganistan.

Dengan menyebut kelompok militan itu sebagai "kekuatan militer dan politik yang penting di Afganistan‘‘, Wang mengatakan kelompok itu "diharapkan memainkan peran penting dalam proses perdamaian, rekonsiliasi dan rekonstruksi Afganistan."

Pasukan militer negara-negara juga Barat bergabung dengan sekutu AS untuk menarik diri. Tetapi beberapa mitra koalisi telah menyatakan kekhawatiran bahwa Taliban akan mendapatkan kembali kekuatan jika penarikan dilakukan terlalu cepat.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Mass mengatakan pada bulan November bahwa AS dan sekutunya "tidak boleh menghadirkan tantangan tambahan yang dibawa akibat penarikan prematur (pasukan) dari Afganistan."

Dia menanggapi langkah presiden AS saat itu Donald Trump untuk mengurangi jumlah pasukan di Afganistan menjadi hanya 2.500 tentara pada 15 Januari tahun ini.

Tetapi pemerintahan Biden terus maju dengan penarikan itu, yang berarti Jerman juga membawa pulang tentaranya. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan DW awal bulan ini, mantan presiden AS George W. Bush menyebut penarikan dari Afganistan sebagai sebuah "kesalahan."

pkp/gtp (AFP, dpa)

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement