Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Apa yang Kita Ketahui tentang Varian Delta Plus Sejauh Ini?

Jumat 30 Jul 2021 21:03 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Dwi Murdaningsih

Virus corona (ilustrasi)

Virus corona (ilustrasi)

Foto: Pixabay
Delta Plus mengandung mutasi K417N pada protein lonjakannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus covid-19 varian delta plus ditemukan di Indonesia, Rabu (28/7). Dikutip dari Anadolu Agency, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan dua kasus terdeteksi di Jambi, sedangkan satu di Mamuju, Sulawesi Barat.

Apa yang kita ketahui tentang varian ini?

Baca Juga

Varian Delta Plus (AY.1) adalah mutasi lebih lanjut dari varian Delta yang diketahui (B.1.617.2). Delta Plus mengandung mutasi K417N pada protein lonjakannya. Varian Delta Plus pertama kali muncul di database global pada Maret 2021 dan Badan Kesehatan Inggris (PHE) telah mengkategorikannya sebagai variant of concern.

"Delta Plus sebagai Variant of Concern (VoC) yang merupakan risiko tinggi dibandingkan dengan Variant of interest. Ini mengkhawatirkan karena kami tidak cukup tahu tentang bagaimana perilakunya darisini," kata Anggota Gugus Tugas Covid-19 di Maharashtra India, Om Shrivastava dikutip dari dari 9news pada pemberitaan Rabu (23/6).

Sebagai informasi, puluhan kasus covid-19 varian delta plus ditemukan di Maharashtra, India pada saat itu.

Dalam artikel yang ditulis 8 Juli ini oleh usnews.com, ada kekhawatiran bahwa mutasi dapat menyebabkan varian delta plus menjadi lebih menular. Studi sedang berlangsung untuk menguji efektivitas vaksin terhadap strain ini.

"Saya pikir alarm kami tentang varian delta plus seharusnya virus ini terus beredar dan bermutasi seperti yang kami harapkan, dan itu membuat perjuangan kami jauh lebih sulit untuk menahan penyebaran infeksi ini," kata Amber D'Souza, a professor of epidemiology at Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health.

Strain delta plus telah didokumentasikan di lebih dari 10 negara, termasuk AS. Para ahli memperingatkan bahwa tingkat vaksinasi di seluruh dunia perlu meningkat secara dramatis untuk mencegah munculnya lebih banyak varian. 

 

sumber : pusat data republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA