Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Menunggu Juknis Vaksinasi Ibu Hamil

Jumat 30 Jul 2021 19:21 WIB

Red: Indira Rezkisari

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) berharap petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil segera tuntas.

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) berharap petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil segera tuntas.

Foto: ANTARA/Iggoy el Fitra
POGI menyebut pada dasarnya semua merk vaksin aman bagi ibu hamil.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Mimi Kartika, Antara

Tingginya kematian ibu hamil di masa pandemi, terutama di bulan-bulan terakhir, menimbulkan kekhawatiran. Sejak awal pandemi tercatat lebih dari 500 ibu hamil telah meninggal akibat Covid-19. Sebagian di antaranya meninggal dunia bersama sang janin.

Perlindungan dalam bentuk vaksinasi terhadap ibu hamil mendesak sifatnya. Menyikapinya, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) berharap petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil segera tuntas. Sehingga ibu hamil segera masuk sebagai sasaran penerima vaksin Covid-19.

"Semoga nanti petunjuk teknisnya segera dikeluarkan sehingga tidak ada lagi ibu hamil itu masuk kriteria eksklusi untuk dilakukan vaksinasi. Mudah-mudahan bisa minggu depan surat edaran dari kementerian kesehatan," ujar Sekjen POGI, Budi Wiweko, dalam konferensi pers daring, Jumat (30/7).

Dia mengatakan, merk vaksin yang dimasukkan dalam daftar untuk pemberian kepada ibu hamil yakni Astrazeneca, Sinovac, dan Sinopharm. Sementara, Pfizer dan Moderna memang sudah jelas dapat diberikan kepada ibu hamil berdasarkan studi yang dilakukan di Amerika Serikat.

Pada dasarnya semua vaksin aman untuk ibu hamil. Hanya saja saat ini, penelitian vaksin untuk ibu hamil baru dilakukan oleh Pfizer dan Moderna.
"Memang berdasarkan semua studi di hewan, semua platform vaksin aman untuk ibu hamil. Untuk Pfizer dan Moderna ada tambahan dan kelebihan karena dia ada data pada ibu hamil," katanya.

"Jenis vaksinnya bisa apa saja tapi paling banyak Sinovac. Moderna itu khusus untuk nakes dosis ketiga, itu juga kalau dia sudah dapat dua dosis Sinovac."

Budi menuturkan, bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Kementerian Kesehatan sudah menyepakati vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil segera dilaksanakan. Format skrining sebelum vaksinasi Covid-19 untuk ibu hamil sudah dituntaskan, termasuk kartu kendali untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada ibu hamil sebelum vaksin.

Sebab, ada beberapa kondisi ibu hamil yang tidak bisa mendapatkan vaksin Covid-19. Ibu hamil yang tidak boleh menerima suntikan vaksin di antaranya mengalami tanda-tanda kehamilan berat.

"Kalau yang lain-lain saya kira tidak ada masalah, kontra indikasinya sama persis dengan kelompok yang sedang ditangani," kata Budi.

Dia menambahkan, setelah vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil dilaksanakan, tentu ada upaya pemantauan, pencatatan, termasuk perkembangan bayi selama kehamilan dan persalinan. POGI sudah menyiapkan format pencatatan dengan menggandeng kementerian kesehatan dan BKKBN untuk pelaksanaannya.

"Nanti bersama-sama dengan kementerian kesehatan dan BKKBN akan memantau semua ibu-ibu hamil yang mendapatkan vaksinasi," tutur Budi.

Vaksinasi adalah kata kunci yang sangat penting untuk mencegah kesakitan dan kematian pada ibu hamil. "Yang terakhir nanti setelah dilakukan vaksin tentu harus dilakukan pemantauan, dengan catatan bagaimana dengan perkembangan bayi selama kehamilan dan juga sampai dengan persalinan," kata Budi.



Berdasarkan data Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), 45 dokter kebidanan dan kandungan (obygn) meninggal karena Covid-19. Angka kematian dokter obygn ini sekitar 20-30 persen dari akumulasi jumlah kematian dokter akibat Covid-19 per 27 Juli 2021 sebanyak 598 orang yang terjadi dalam satu bulan terakhir.

"Tadi pagi ada satu lagi meninggal anggota dari Semarang, sehingga saat ini dokter obygn sudah mencapai 45 orang yang meninggal," ujar Wakil Ketua Tim Mitigasi IDI dr Ari Kusuma Januarto dalam konferensi pers daring, Jumat (30/7).

Ari yang juga Ketua POGI mengatakan, kasus kematian dokter obygn menjadi keprihatinan tersendiri. Para dokter obygn bisa saja berinteraksi dengan pasien atau ibu hamil yang terinfeksi Covid-19 dengan tanpa gejala.

Data POGI menunjukkan, sejak April 2020-April 2021 terdapat 536 ibu hamil yang terpapar Covid-19 dan 51,9 persen di antaranya ialah orang tanpa gejala (OTG). Hal ini yang menjadi salah satu celah terjadinya penularan dari ibu hamil yang terinfeksi Covid-19 kepada dokternya.

Selain itu, kata Ari, dokter obygn juga memiliki beban kerja yang cukup berat di tengah pandemi Covid-19 ini. Para dokter kandungan berpotensi terpapar di tempat praktik, kamar bersalin, kamar operasi, dan saat kontak fisik dengan pasien, meskipun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Untuk mencegah kematian dokter obygn ini, Ari mendorong program vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil. Di sisi lain, dia mendukung pemberian vaksin dosis ketiga bagi tenaga kesehatan.

"Vaksin merupakan salah satu upaya pencegahan selain protokol kesehatan," kata Ari.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melaporkan penduduk Indonesia yang telah divaksinasi dosis kedua atau lengkap hingga Jumat pukul 12.00 WIB mencapai 20.146.421 jiwa. Berdasarkan data, terdapat penambahan 477.199 jiwa yang mendapat vaksinasi dosis lengkap.

Sementara jumlah penerima vaksin dosis pertama bertambah 516.051 jiwa. Dengan tambahan tersebut, maka masyarakat yang telah divaksinasi dosis pertama mencapai 46.805.993 jiwa.

Pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 sebesar 208.265.720 jiwa, untuk membentuk kekebalan kelompok sehingga pandemi bisa segera berakhir.

Sebelumnya, vaksinolog sekaligus dokter spesialis penyakit dalam Dirga Sakti Rambe mengatakan perluasan cakupan vaksinasi saat ini lebih baik diutamakan dibandingkan memberikan vaksin ketiga bagi masyarakat umum. "Agak percuma kalau kita 10 kali divaksinasi tapi orang-orang di sekitar kita belum divaksinasi. Jadi lebih baik fokus memperluas cakupan vaksinasi ketimbang memberikan suntikan ketiga, keempat pada orang-orang yang sama," kata Dirga.

Suntikan ketiga atau booster sendiri di Indonesia baru diberikan kepada tenaga kesehatan (nakes), mengingat risiko yang mereka hadapi sebagai ujung tombak perawatan pasien Covid-19. Menurutnya, meski antibodi mengalami penurunan enam bulan setelah melakukan suntikan kedua vaksin Covid-19 tapi hal tersebut tidak mengurangi perlindungan akan penyakit yang menyerang pernapasan itu.

Baca Juga

photo
Ibu hamil di masa pandemi. - (Republika.co.id)


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA