Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Thursday, 9 Safar 1443 / 16 September 2021

Kasus Kematian Melonjak Tajam, Wiku Sampaikan Duka Cita

Jumat 30 Jul 2021 18:51 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Erik Purnama Putra

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito.

Foto: Satgas Covid-19
Prof Wiku mengaku juga merasakan duka mendalam kehilangan koleganya akibat Covid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perkembangan kasus kematian dalam dua pekan terakhir ini terus mengalami kenaikan lebih dari 1.000 kasus tiap harinya. Kenaikan tertinggi terjadi pada 27 Juli lalu yang mencapai hingga 2.069 kasus kematian dalam satu hari.

Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito pun menyampaikan duka citanya kepada masyarakat yang kehilangan anggota keluarga maupun kerabatnya akibat Covid-19 ini.

"Saya menyampaikan turut bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk seluruh masyarakat yang kehilangan orang tua, sanak saudara, dan kerabat akibat Covid-19,” kata Wiku saat konferensi pers di Jakarta, kemarin.

Wiku yang pernah terpapar Covid-19, mengaku juga merasakan duka mendalam setelah kehilangan koleganya akibat virus ini. "Saya juga mengalami kehilangan kolega akibat Covid-19 dan merasakan duka yang mendalam. Saya doakan semoga yang pergi meninggalkan kita ditempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan YME.”

Berdasarkan data Satgas, jumlah kematian yang terjadi pada Juli ini merupakan yang tertinggi selama pandemi di Indonesia. Wiku menyebut, hingga kemarin terdapat total 30.168 kematian pada bulan ini. Angka ini sangat tinggi mengingat pada sebelumnya kasus kematian tertinggi tercatat pada Juni lalu sebesar 7.913 kasus.

Wiku melanjutkan, ketidakpatuhan desa atau kelurahan dalam menjalankan protokol kesehatan seperti memakai masker dan menjaga jarak masih cukup tinggi. Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat hingga saat ini masih terdapat sekitar 27,03 persen desa atau kelurahan di Indonesia yang memiliki kepatuhan rendah dalam menggunakan masker.

Sedangkan dalam menjaga jarak, terdapat 28,36 persen desa atau kelurahan yang memiliki kepatuhan rendah. "Angka ketidakpatuhan ini masih tergolong tinggi dan implikasi dari minimnya kepatuhan protokol kesehatan adalah kenaikan penularan di daerah," kata.

Karena itu, Wiku meminta semua pihak yang bertanggung jawab mengawasi jalannya protokol kesehatan untuk dapat lebih tegas menyikapi pelanggaran protokol kesehatan di daerahnya masing-masing. Hal ini penting dilakukan untuk meminimalisir penularan Covid-19 dan mempercepat penurunan kasus serta laju penularan.

"Untuk daerah dengan tingkat kepatuhan yang baik, terima kasih atas kerja kerasnya dan harap terus konsisten," ujar Wiku.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA