Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Kekeringan di Iran Picu Protes Warga

Jumat 30 Jul 2021 18:02 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi kekeringan.

Ilustrasi kekeringan.

Foto: ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Kekeringan di Iran diperburuk oleh pembangunan bendungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Warga di Provinsi Khuzestan, barat daya Iran putus asa. Mereka menderita kekeringan dan kekurangan air sejak Maret lalu. Mereka turun ke jalan dalam beberapa minggu terakhir untuk mengekspresikan kemarahan mereka kepada pemerintah atas pengelolaan sumber daya air yang buruk.

Menurut sumber resmi, setidaknya empat pria, termasuk satu polisi, tewas dalam aksi protes tersebut. Pihak berwenang mengklaim mereka ditembak oleh "perusuh tak dikenal" untuk memicu masalah.

Baca Juga

Pemerintah Iran sangat khawatir protes akan meluas. Oleh karenanya pemerintah mencoba mengganggu komunikasi pengunjuk rasa dengan cara pemblokiran internet berulang kali, guna mencegah foto dan video bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan tersebar luas.

Tapi aksi protes telah menyebar ke provinsi lain. Pada tanggal 23 Juli, seorang demonstran berusia 20 tahun tewas di Kota Aligudarz, di Provinsi Lorestan. Menurut Amnesty International, pada tanggal tersebut pasukan keamanan yang menggunakan peluru tajam telah menewaskan sedikitnya delapan orang di tujuh kota di Iran.

Masalah diperburuk oleh pembangunan bendungan

"Kami telah mengetahui tentang masalah kelangkaan air dan ancaman yang ditimbulkannya terhadap keamanan nasional selama lebih dari 30 tahun," kata pakar lingkungan Nik Kowsar.

Bermarkas di Washington, D.C., Kowsar telah meneliti dan menulis artikel kritis tentang pengelolaan air Iran sejak tahun 1990-an, termasuk rencana pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan bendungan.

Menurut data resmi, Iran sekarang memiliki 192 bendungan, sekitar 10 kali lipat dari 40 tahun yang lalu. "Pemerintah sedang mencari solusi cepat yang menjanjikan keberhasilan jangka pendek. Suara-suara kritis tidak diterima, dan diabaikan," kata Kowsar.

"Seperti, misalnya, ketika Anda menunjukkan bahwa pada prinsipnya Anda tidak boleh membangun bendungan besar di negara kering seperti Iran, karena terlalu banyak air yang menguap dari waduk."

Kepala layanan meteorologi Iran mengatakan dari Oktober 2020 hingga pertengahan Juni 2021 merupakan masa terkering dalam 53 tahun terakhir. Suhu rata-rata di negara itu telah meningkat 2 derajat celsius sejak akhir 1960-an. 

 

sumber : DW
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA