Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Makanan Populer yang Bisa Tingkatkan Risiko Peradangan

Jumat 30 Jul 2021 16:41 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Pola makan menjadi salah satu faktor yang pengaruhi kadar peradangan dalam tubuh.

Pola makan menjadi salah satu faktor yang pengaruhi kadar peradangan dalam tubuh.

Foto: pixabay
Pola makan menjadi salah satu faktor yang pengaruhi kadar peradangan dalam tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola makan merupakan salah satu faktor gaya hidup yang dapat mempengaruhi kadar inflamasi di dalam tubuh. Pemilihan asupan makanan yang keliru dapat menyebabkan peningkatan kadar inflamasi ini.

Peningkatan kadar inflamasi atau peradangan di dalam tubuh dapat bermanifestasi melalui masalah kesehatan. Beberapa contohnya adalah peningkatan kadar gula darah, peningkatan tekanan darah, dan kadar kolesterol tinggi.

Makanan yang melalui banyak proses pengolahan kerap menjadi "dalang" dari peningkatan kadar inflamasi di dalam tubuh. Alasannya, makanan-makanan seperti ini seringkali mengandung gula atau lemak yang tinggi.

Ironisnya, sebagian besar makanan yang melalui banyak proses pengolahan ini populer dan digemari banyak orang. Berikut ini adalah beberapa makanan populer yang dapat meningkatkan kadar inflamasi di dalam tubuh dan patut diwaspadai, seperti dilansir EatThis, Jumat (30/7).

Sirup Jagung Tinggi Fruktosa (HFCS)
Ada beragam produk makanan dan minuman populer yang mengandung sirup jagung tinggi fruktosa. Beberapa contoh produk makanan dan minuman yang umumnya mengandung HFCS menurut Medical News Today adalah soda, jus kemasan, biskuit, bar granola, selai kacang, dan makanan manis kemasan.

HFCS merupakan modifikasi dari sirup jagung dengan masa penyimpanan yang lebih stabil. Oleh karena itu, keberadaan HFCS menguntungkan banyak pabrik makanan atau minuman.

Akan tetapi, konsumsi HFCS dapat memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan. HFCS yang masuk ke dalam tubuh akan dicerna dan diserap melalui hati. Proses ini akan mengahsilkan lemak yang kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh. Konsumsi HFCS berlebih dapat memicu terjadinya resistensi insulin dan kenaikan berat badan.

"Diet tinggi fruktosa dan lemak dapat menyebabkan perlemakan hati dan intoleransi glukosa, bersamaan dengan stres oksidatif dan inflamasi," pungkas ahli gizi Lisa Andrews RD.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA