Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Jo In-Sung Menikmati Perannya di Escape from Mogadhisu

Jumat 30 Jul 2021 16:20 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Nora Azizah

Jo In-sung merasa tidak terbebani selama proses syuting 'Escape from Mogadishu'.

Jo In-sung merasa tidak terbebani selama proses syuting 'Escape from Mogadishu'.

Foto: EPA
Jo In-sung merasa tidak terbebani selama proses syuting 'Escape from Mogadishu'.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Aktor Jo In-sung mengungkapkan sangat menikmati proses syuting film Escape from Mogadishu karena tidak merasakan beban selama perekaman gambar. Aktor kelahiran 28 Juli 1981 itu mengatakan dalam film-film sebelumnya, meskipun tidak ada yang mengatakan kepadanya harus merasa tertekan, tetapi dia merasakan tanggung jawab.

“Saat syuting film, ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh aktor utama. Mereka harus memastikan stafnya baik-baik saja, mempertimbangkan biaya produksi, dan sebagainya,” kata Jo In-sung dilansir The Korea herald, Jumat (30/7).

Karena ada dua aktor veteran lainnya di film Escape from Mogadishu, Jo In-sung berbagi beban itu dengan seniornya. Dengan begitu, dia mengatakan bisa lebih fokus menggambarkan karakternya.

Berlatar 1991 di Somalia, film Escape from Mogadishu menggambarkan Duta Besar Korea Selatan untuk Somalia Han Shin-sung (diperankan Kim Yoon-seok) dan Kang Dae-jin (diperankan Jo In-sung), yaitu seorang agen mata-mata dari Badan Perencanaan Keamanan Nasional Korea, bersaing melawan Duta Besar Korea Utara (Heo Jun-ho) untuk keanggotaan Korea Selatan di PBB. Suatu hari, perang saudara pecah dan diplomat Korea Selatan dan Korea Utara harus bekerja sama melarikan diri dari negara itu bersama-sama.

Meskipun film itu menggambarkan topik serius yang didasarkan pada peristiwa nyata, adegan lucu terjalin di seluruh film. Jo In-sung menjelaskan Escape from Mogadishu adalah film komersial, yang memasukkan sentuhan humor, bahkan dalam situasi serius.

“Proses melarikan diri berbahaya dalam film kami, tetapi ketika karakter saya berinteraksi dengan karakter lain, saya mencoba menunjukkan bahwa dia memiliki selera humor,” ujar bintang “It’s Okay, That’s Love” itu.

Jo In-sung juga menunjukkan film barunya itu tidak menyertakan adegan yang terlalu emosional, yang biasanya dimiliki film-film yang berpusat pada hubungan Korea Selatan dan Utara. Dia mengatakan adegan di film itu efektif karena membuat penonton bereaksi dengan cara tertentu. Menurut dia, sutradara Ryoo Seung-wan melakukannya secara berbeda, menulis naskah dan mengarahkan film dengan lebih tenang, serta tidak memihak.

“Saya pikir itu akan memberikan pengalaman yang berbeda kepada penonton,” kata Jo In-sung.

Ketika ditanya tentang kesulitan yang dia alami saat syuting, aktor itu mengatakan dia berusaha untuk tetap positif, bahkan dalam situasi sulit. Dia menggambarkan kondisi, di mana kru dan pemain harus terbang ke Turki, kemudian pindah ke Maroko. Tak sampai di situ, mereka harus berkendara selama tiga jam untuk sampai ke tempat syuting film tersebut.

“Itu tidak mudah. Tapi, saya menganggap pengalaman itu sebagai hak istimewa seorang aktor. Jika saya bukan seorang aktor, saya mungkin tidak akan memiliki kesempatan untuk mengalami semua itu,” ujar Jo In-sung.

Selama wawancara, Jo juga berbagi pandangannya tentang perang. Meskipun tidak memiliki pengalaman secara langsung, dia meyakini perang bisa menghancurkan. “Begitu banyak orang yang tidak bersalah dikorbankan dalam perang. Juga, seperti di film, anak-anak berlarian dengan senjata. Saya pikir itu seharusnya tidak pernah terjadi,” kata dia.

Escape from Mogadishu menarik lebih dari 126 ribu pengunjung dan menduduki puncak box office domestik pada Rabu (28/7), hari pertama peluncurannya.

Sebelumnya pada Juni, Korean Theater Association, yang mencakup tiga operator multipleks teratas, memutuskan untuk tidak menjual tiket hingga penjualan mencapai 50 persen dari total biaya produksi Escape from Mogadishu. Bioskop dan distributor film biasanya membagi penjualan tiket 50 berbanding 50. Escape from Mogadishu menghabiskan biaya produksi sekitar 25 miliar won (sekitar Rp 315 miliar).

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA