Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Turki Tetapkan Kebakaran Hutan Sebagai Bencana Nasional

Jumat 30 Jul 2021 10:13 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Ilustrasi Kebakaran Hutan

Ilustrasi Kebakaran Hutan

Foto: Antara
Turki akan menyelidiki penyebab kebakaran hutan di wilayah selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin menyebut kebakaran hutan di Turki selatan sebagai bencana nasional. Kantor kejaksaan sedang melakukan penyelidikan komprehensif atas penyebab tersulutnya api tersebut.

"Kebakaran hutan adalah bencana nasional. Semua departemen kami menanganinya secara intensif. Kejaksaan sedang mempelajari penyebab kebakaran secara komprehensif. Pekerjaan akan terus berlanjut tanpa lelah," kata Kalin di Twitter.

Baca Juga

Administrasi gubernur Provinsi Antalya mengumumkan kebakaran hebat di daerah tersebut pada Rabu (28/7). Angin kencang dan cuaca panas, api dengan cepat menyebar ke area yang luas. Api di Manavgat berhasil dikendalikan pada Kamis. Namun, atas peristiwa itu itu, sebanyak tiga orang meninggal dunia dan 122 luka-luka.

Secara total, 41 kebakaran hutan telah terjadi di 13 provinsi Turki selama dua hari terakhir. Sebanyak 31 titik di antaranya telah dikendalikan.

Dalam rekaman awal menunjukkan, gumpalan asap hitam membumbung dari hutan di sekitar Manavgat, 75 km timur kota resor Antalya. Untuk mengatasi kobaran yang meluas, Menteri Pertanian Bekir Pakdemirli mengatakan pihak berwenang sedang memerangi api dengan pesawat pemadam kebakaran, 19 helikopter, 108 kendaraan, dan sekitar 400 personel.

Kebakaran itu terjadi saat Turki menghadapi serangkaian bencana yang disebabkan oleh kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir. Awal bulan ini, banjir bandang di provinsi Laut Hitam Rize dan Artvin merusak rumah dan properti. Menurut AFAD, banjir tersebut menewaskan enam orang di Rize. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA