Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Varian Baru Turunkan Efektivitas Vaksin? Ini Kata Peneliti

Jumat 30 Jul 2021 00:28 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas kesehatan menunjukan vaksin COVID-19 AstraZaneca sebelum disuntikan kepada seorang pelaku ekonomi kreatif di Sentra Vaksinasi di Neo Soho Mall, Jakarta, Selasa (8/6). Kemenparekraf membuka program vaksinasi COVID-19 bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di area Jakarta yang berlangsung dari tanggal 8 hingga 11 Juni 2021.Prayogi/Republika

Petugas kesehatan menunjukan vaksin COVID-19 AstraZaneca sebelum disuntikan kepada seorang pelaku ekonomi kreatif di Sentra Vaksinasi di Neo Soho Mall, Jakarta, Selasa (8/6). Kemenparekraf membuka program vaksinasi COVID-19 bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di area Jakarta yang berlangsung dari tanggal 8 hingga 11 Juni 2021.Prayogi/Republika

Foto: Prayogi/Republika.
Vaksin Covid-19 yang terbaik adalah vaksin yang tersedia saat ini.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Peneliti Indra Rudiansyah mengatakan, laporan terkait penurunan efektivitas vaksin Covid-19 terhadap varian virus SARS-CoV-2 tertentu baru sebatas penelitian di laboratorium. Menurutnya, vaksin yang terbaik adalah vaksin yang tersedia saat in.

"Apa yang dilakukan di laboratorium itu hanya menangkap sebagian kecil fenomena yang ada di dalam tubuh," kata peneliti alumni ITB yang sedang studi di Universitas Oxford, Inggris itu saat hadir secara virtual dalam acara media interview yang dipantau melalui aplikasi Zoom, di Jakarta, Kamis (29/7).

Baca Juga

Mahasiswa yang menjadi bagian tim peneliti uji klinis vaksin AstraZeneca di Oxford, Inggris itu mengatakan, bahwa para ilmuwan masih menerka apa saja proses pembentuk imunitas di dalam tubuh manusia setelah vaksinasi.

"Kita tahu, dalam tubuh manusia itu banyak komponen berperan penting. Kalau ada yang menganggap adanya varian baru akan menurunkan efektivitas vaksin, karena kita lakukan studi itu di dalam laboratorium, tapi di dalam tubuh banyak hal yang berpengaruh pada proses pembentukan kekebalan," katanya.

Ia mengatakan, publikasi seputar penurunan efektivitas vaksin dari beberapa jurnal ilmiah merupakan studi di laboratorium. Namun, pendapat pakar secara umum menyebutkan bahwa vaksin masih tetap efektif membentuk kekebalan tubuh seseorang dari risiko kesakitan maupun kematian.

"Tapi memang ada sedikit penurunan kemampuan menetralisasi virus sekian persen, misalnya varian Delta lebih berakibat pada AstraZeneca dan beberapa vaksin lainnya, tapi semua vaksin masih efektif," katanya.

Indra menambahkan, bahwa vaksin yang terbaik adalah vaksin yang tersedia saat ini karena merupakan solusi untuk mencapai kekebalan komunal. Sehingga, masyarakat diimbau untuk tidak pilih-pilih jenis vaksin yang tersedia di Indonesia saat ini.

"Upaya lain mencapai kekebalan komunal bisa melalui infeksi natural. Kita biarkan saja terinfeksi SARS-CoV-2, kemudian sakit dan sembuh lalu miliki kekebalan alami," katanya.

Namun pilihan itu, kata Indra, sangat berisiko kematian bagi populasi rentan yang terinfeksi virus. "Korban jiwa untuk infeksi natural ini lebih banyak," katanya.

Namun, dengan vaksinasi dapat memberikan pengenalan tubuh kepada virus lebih awal. "Orang di sekitar yang sudah miliki kekebalan sehingga virus tidak punya inang dan hilang dari muka bumi," kata Indra.

 

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA