Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Asosiasi: Perlu Paradigma Baru Kelola Pusat Perbelanjaan

Jumat 30 Jul 2021 02:15 WIB

Red: Nidia Zuraya

Suasana pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung. Ilustrasi

Suasana pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung. Ilustrasi

Foto: ANTARA/BAYU PRATAMA S
Pengelola harus mencari konsep agar pusat belanja tak hanya menjadi tempat belanja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai perlu ada paradigma baru dalam mengelola pusat perbelanjaan agar bisa terus bertahan dan beradaptasi di tengah kenormalan baru pandemi Covid-19.

"Kita tahu semua dengan pandemi ini adalah kita harus adaptasi dengan new normal. Untuk bisa ke new normal tentunya kita harus punya paradigma baru, khususnya bagi pengelola belanja terhadap visitordan tenant," ujar Ketua Umum APPBI Alphonsus Widjaja dalam webinar, Kamis (29/7).

Menurut dia, saat ini pengunjung sebenarnya sudah tidak memerlukan lagi pusat belanja karena sudah banyak alternatif tempat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, termasuk melalui belanja daring. Namun, kata dia, mereka masih memerlukan tempat untuk memenuhi kebutuhan sebagai makhluk sosial, yakni berinteraksi secara langsung.

Oleh karena itu, Alphonsus mengatakan pengelola harus bisa mencari konsep agar pusat belanja tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi tempat pengunjung berinteraksi antar sesama."Jadi pengelola harus cerdik, harus inovatif, harus kreatif memberikan sesuatu untuk customermelampiaskan kebutuhannya sebagai makhluk sosial," kata dia.

Sementara di sisi penyewa, Alphonsus menilai perlu ada satu konsep berjualan yang baru agar dagangan mereka tetap laku terjual. Dia mengatakan pusat perbelanjaan saat ini tidak boleh lagi hanya menjual tempat bisnis, tetapi harus menjadi bisnis itu sendiri.

"Jadi pusat perbelanjaan harus bisa memberikan satu konsep bukan hanya sekadar tempat berjualan, bukan lagi menjual place of business, tetapi place-nya harus dicoret, jadi harus menjadi business," kata Alphonsus.

"Pusat perbelanjaan harus bisa memberikan, menyewakan satu tempat bukan hanya sekadar menyewakan tempat, tetapi lebih kepada bisnisnya, karena tenant-tenantini mereka perlu sekali konsep baru, bukan hanya sekadar berjualan saja," sambung dia.

Alphonsus menyebut bahwa tugas pengelola pusat perbelanjaan saat ini adalah menyatukan dua kepentingan tersebut. Hal itulah yang dia sebut sebagai paradigma baru."Pengelola harus bisa mengombinasikan ini semua, harus bisa mengelola antar kebutuhan customer dengan tenant. Kalau sudah seperti itu tidak ada lagi perdebatan harga sewa segala macam tidak akan terjadi," ujar dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA