Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Studi Ungkap Kerusakan Mata Jadi Gejala Baru Long Covid

Jumat 30 Jul 2021 00:30 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

'Long Covid' berdampak pada kerusakan serabut saraf mata.

'Long Covid' berdampak pada kerusakan serabut saraf mata.

Foto: www.freepik.com
'Long Covid' berdampak pada kerusakan serabut saraf mata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Long Covid merupakan sebuah sindrom jangka panjang yang terjadi pada sebagian orang setelah infeksi Covid-19. Menurut studi terbaru, sebagian gejala long Covid muncul akibat kerusakan pada saraf perifer atau saraf tepi.

Sebelumnya, telah diketahui bahwa sebagian penyandang long Covid atau long haulers mengalami beragam gejala yang berkaitan dengan masalah neurologi. beberapa dari gejala tersebut meliputi sakit kepala, kebas pada tubuh, kehilangan indra penciuman, dan brain fog atau kesulitan berkonsentrasi dan berpikir.

Gejala-gejala tersebut mengindikasikan bahwa sebagian kondisi long Covid mungkin muncul akibat kerusakan pada sel-sel saraf di tubuh. Hal serupa juga terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan oleh dokter konsultan Dr Rayaz Malik dari Weill Cornell Medicine-Qatar di Doha bersama timnya.

Temuan awal dalam studi ini menunjukkan bahwa long Covid tampak melibatkan kerusakan pada serabut saraf kecil. Serabut saraf kecil ini berfungsi untuk menyampaikan informasi sensori mengenai rasa sakit, suhu, rasa gatal, dan sensasi-sensasi lain ke sistem saraf pusat.

Dalam studi terbaru ini, Dr Malik dan tim mempelajari kehilangan serabut saraf kecil pada penyandang diabetes dan penyakit neurodegeneratif seperti multiple sclerosis. Dr Malik lalu menemukan bahwa penyandang long Covid juga tampak memiliki gejala yang mirip dengan pasien-pasien diabetes dan penyakit neurodegeneratif ini.

Dari temuan tersebut, Dr Malik dan tim berupaya menginvestigasi potensi hubungan di antara keduanya dengan mengguakan teknik bernama corneal confocal microscopy (CCM). Tim peneliti menggunakan prosedur non invasif untuk menghitung total angka sel serabut saraf kecil pada kornea para partisipan. Mereka juga melakukan penilaian terhadap panjang dan tingkat percabangan dari serabut-serabut saraf tersebut.

Dr Malik mengatakan kerusakan serabut saraf kecil di kornea seringkali mengindikasikan bahwa kerusakan yang serupa juga terjadi pada lokasi lain di tubuh. Oleh karena itu, pemeriksaan yang mereka lakukan dapat menjadi barometer penilaian yang sangat baik.

Melalui British Journal of Ophthalmology, peneliti mengungkapkan bahwa penurunan serabut saraf kecil di kornea ditemukan pada para penyintas Covid-19 yang mengalami gejala-gejala neurologis setelah terinfeksi Covid-19. Penurunan ini tampak signifikan bila dibandingkan dengan para penyintas Covid-19 yang tak mengalami gejala neurologis berkepanjangan.

Selain itu, tingkat kerusakan serabut saraf juga tampak berkaitan dengan tingkat keparahan gejala yang dialami oleh para partisipan. Semakin besar kerusakan saraf yang terjadi, semakin berat gejala yang muncul.

"Orang-orang yang mengalami gejala neurologis terlihat jelas mengalami penurunan pada serabut saraf kecilnya," jelas Dr Malik, seperti dilansir Live Science, Kamis (29/7).

Dr Malik menilai CCM dapat digunakan sebagai alat diagnostik untuk membantu mengidentifikasi pasien dengan long Covid, khususnya pada pasien dengan gejala neurologis. Akan tetapi, saat ini teknik tersebut umumnya masih digunakan untuk penelitian dan belum digunakan secara luas dalam setting klinis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA