Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

PM Australia: Vaksinasi tak Cukup Akhiri Lockdown Sydney

Kamis 29 Jul 2021 13:14 WIB

Rep: Fergi Nadira/Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Seorang pria melewati jalanan yang sepi di kawasan pusat bisnis Sydney, Australia, Selasa (29/6).

Seorang pria melewati jalanan yang sepi di kawasan pusat bisnis Sydney, Australia, Selasa (29/6).

Foto: AAP
Hanya sekitar 17 persen orang di atas 16 tahun yang divaksinasi penuh

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY - Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan vaksinasi saja tidak akan mengakhiri lockdown atau karantina wilayah Covid-19 di Sydney. Sydney sebagai kota berpenduduk terbesar di negara itu menghadapi perpanjangan satu bulan lagi pembatasan ketat untuk membasmi varian Delta Covid-19.

"Maksud saya, (lockdown) dapat membantu, tingkat rendah (vaksinasi) yang perlu kita tingkatkan dan itu pasti akan membantu upaya karantina tetapi dengan dengan sendirinya, itu tidak akan menghentikan lockdown," ujar Morrison kepada Nine News dikutip laman Channel News Asia, Kamis (29/7).

Morrison berharap perpanjangan lockdown dan pembatasan yang lebih ketat pada pergerakan yang diberlakukan di daerah-daerah yang terkena dampak terburuk di Sydney dapat menahan varian Delta yang sangat menular. Infeksi virus pada warga terus meningkat meskipun Sydney dikunci sejak 26 Juni. Ini karena hanya sekitar 17 persen orang di atas 16 tahun yang divaksinasi penuh di negara bagian New South Wales itu.

Lebih dari 2.500 kasus telah terdeteksi sejauh ini dalam wabah terburuk negara bagian tahun ini, dengan 165 orang dirawat di rumah sakit. Sekurangnya 56 pasien berada dalam perawatan intensif, 22 di antaranya membutuhkan ventilator.

"Apa yang kami lihat adalah angka yang keras kepala. Kami tidak akan berpura-pura bahwa kami memiliki setiap jawaban karena kami tidak memilikinya," kata Wakil Perdana Menteri Negara Bagian John Barilaro kepada Nine News.

Sebanyak 177 kasus terdeteksi, sebagian besar di ibu kota negara bagian Sydney pada Rabu (28/7). Angka ini merupakan kenaikan harian terbesar sejak Maret 2020.

Lockdown yang diperpanjang di Greater Sydney terhadap sekitar enam juta orang. Pembatasan ini diperkirakan akan berdampak besar pada ekonomi Australia senilai 1,50 triliun dolar AS karena banyak bisnis terpaksa ditutup.

Hal ini pun meningkatkan prospek negara yang mencatat resesi kedua dalam beberapa tahun. Bendahara Federal Josh Frydenberg memperkirakan ekonomi nasional menyusut pada kuartal September tapi masih berharap Australia dapat menghindari resesi jika New South Wales menekan wabah segera.

"Sehubungan dengan kuartal Desember, itu sangat bergantung pada seberapa sukses New South Wales, ekonomi negara bagian terbesar kita, dalam mengatasi virus ini," kata Frydenberg kepada Australian Broadcasting Corp.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA