Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

Tuesday, 21 Safar 1443 / 28 September 2021

In Picture: Kurban untuk Mereka, Sang Pencari Karet di Desa Ludai

Rabu 28 Jul 2021 17:05 WIB

Red: Mohamad Amin Madani

Foto: dok. Dompet Dhuafa
Desa Ludai merupakan salah satu Desa tertua di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Riau.

REPUBLIKA.CO.ID, KAMPAR -- Desa Ludai merupakan salah satu Desa tertua yang berada di Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Topografi Desa di kelilingi oleh perbukitan dengan vegetasi hutan yang cukup rapat. Listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 10 malam. Dan untuk melakukan komunikasi pun cukup sulit, karena merupakan blank spot area.

Mata pencaharian warga rata-rata adalah pencari karet dengan harga per kilo adalah sekitar 6-7 ribu rupiah. Masyarakat Desa Ludai melakukan aktivitas mencuci sampai mandi di sungai, banyak masyarakat yang tidak mempunyai sarana Mandi Cuci Kakus (MCK) di rumahnya.

Setelah menempuh perjalanan melalui jalur sungai, Tim Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa menyalurkan hewan kurban sejumlah 20 ekor doka (domba/kambing), yang diperuntukkan untuk 200 KK penerima manfaat di Desa Ludai. Dengan total penyaluran hewan kurban sebanyak 106 ekor doka, untuk 1.073 Kepala Keluarga (KK) penerima manfaat di Kecamatan Kampar Kiri Hulu.

Pendistribusian hewan kurban dari Desa Gema ke Desa Ludai, ditempuh menggunakan perahu kecil yang menyusuri empat sungai, selama kurang-lebih tiga jam, karena perahu adalah satu satunya transportasi untuk mencapai desa tersebut.

Hewan kurban yang didistribusikan dari Desa Gema, sudah dicacah dan dimasukkan ke dalam wadah. Ada juga yang hanya di sembelih. Hal itu dilakukan untuk mengejar waktu karena jarak tempuh perjalanan cukup lama.

Damar selaku KAUR (Kepala Urusan) Desa Ludai, mengatakan, bahwa jarang adanya daging kurban di Desa Ludai karena tingkat ekonomi yang rendah juga akses yang sulit hanya dapat ditempuh melalui jalur sungai yang terkadang jika air sedang pasang bisa membahayakan nyawa.

"Terimakasih kepada Dompet Dhuafa telah menyalurkan hewan kurban ke desa kami, Alhamdulillah kami bagikan kepada masyarakat di Ludai. Semoga para pekurban juga sehat selalu dan terus diberikan rezeki,” ucap Damar.

Salah satu penerima manfaat daging kurban Barizan (59), hanya hidup sendiri di Desa Ludai. Untuk mencukupi hidupnya, Barizan bekerja sebagai pencari karet yang terkadang sehari hanya bisa mengumpulkan 5 kg karet saja, dengan harga 6-7 ribu per kilo.

"Dalam sebulan rata-rata saya dapat uang 300 ribu dari hasil mencari getah di pohon karet.", terang Barizan pada Kamis (22/06/2021). 

Rumahnya sangat sederhana. Sebagian dari tembok dan selebihnya kayu, beratapkan seng. Pada malam hari, Bapak Barizan menggunakan listrik yang berasal dari panel tenaga surya, panel tersebut merupakan bantuan dari pemerintah setempat karena penghasilannya sehari-hari tidak mencukupi untuk memasang listrik. 

Barizan sangat bersyukur karena adanya kurban di Desa Ludai, "Saya senang sekali mendapatkan daging domba ini, saya mau langsung masak goreng kering karena tidak mempunyai kulkas. Alhamdulillah bisa untuk makan beberapa hari ke depan,” pungkas Barizan.

 

Sumber :

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA