Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Bersaksi Nabi Muhammad Utusan Allah, Selamatkan Siksa Kubur

Rabu 28 Jul 2021 16:12 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Muhammad Hafil

Bersaksi Nabi Muhammad Utusan Allah, Selamatkan Siksa Kubur. Foto:  Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Bersaksi Nabi Muhammad Utusan Allah, Selamatkan Siksa Kubur. Foto: Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Foto: smileyandwest.ning.com
Orang yang mengikuti Nabi Muhammad akan selamat dari siksa kubur.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Setelah meninggal seseorang akan ditanya beberapa pertanyaan dalam kuburnya. Jika dia bisa menjawab maka dia akan selamat jika tidak dia akan celaka. Salah satu pertanyaan tersebut adalah “Siapa Nabimu?”

Tidak ada orang yang bisa menjawabnya kecuali yang diberi taufik oleh Allah untuk melakukan syarat-syarat kesaksian ini semasa hidup. Allah memberikan ketetapan hati dan ilham di dalam kuburnya sehingga kesaksian ini memberikan manfaat kepadanya di akhirat nanti.

Baca Juga

Adapun syarat-syarat tersebut dijelaskan dalam Buku Tafsir Al-‘Usyr Al-Akhir Alquran. Pertama, Muslim mentaati Nabi Muhammad dalam setiap hal yang ia perintahkan dan contohkan. Allah berfirman dalam surat Ali’ Imran ayat 31:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

"Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Masuknya seseorang dalam surga juga tergantung pada sejauh mana ia mengikuti ketaatannya Rasulullah kepada Allah. Rasulullah berasabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali mereka yang menolak.” Kemudian para sahabat bertanya “Siapakah yang menolak wahai Rasulullah?” Lalu dia menjawab “Siapa saja mentaatiku maka ia masuk surga dan siapa yang tidak taat kepadaku berarti dia telah menolak,” (HR Bukhari).

Selanjutnya syarat kedua adalah mempercayai apa yang Rasulullah sampaikan. Siapa yang mendustakan sesuatu yang telah shahih dari Nabi Muhammad karena keinginan tertentu atau hawa nafsu maka ia telah mendustai Allah dan rasul-Nya. Sebab, Nabi adalah orang yang terpelihara dari kesalahan dan bohong. Allah berfirman dalam surat An-Najm ayat 3:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى

“dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut keinginannya.”

Syarat ketiga adalah seseorang menjauhi apa yang Rasulullah larang, mulai dari dosa paling besar hingga dosa kecil. Keimanan seorang Muslim bertambah sesuai dengan tingkat kecintaannya kepada Rasulullah. Jika imannya bertambah, maka Allah akan menjadikan dia manusia yang selalu melakukan perbuatan sholeh.

Syarat terakhir adalah tidak menyembah selain kepada Allah. Rasulullah bersabda, “Siapa saja melakukan suatu amalan yang tidak ada dasar dari agama kita maka amalan itu tidak diterima,” (HR Muslim). 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA