Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Ibu Tetap Bisa Menyusui Meski Positif Covid-19

Rabu 28 Jul 2021 14:22 WIB

Red: Qommarria Rostanti

Ibu yang terkonfirmasi positif Covid-19 tetap bisa menyusui bayinya (ilustrasi).

Ibu yang terkonfirmasi positif Covid-19 tetap bisa menyusui bayinya (ilustrasi).

Foto: Republika
Virus SARS-CoV-2 tak terdeteksi di dalam ASI dan bayi berisiko rendah kena Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibu menyusui yang terkonfirmasi positif Covid-19 bisa tetap aman memberikan ASI pada bayinya. Syaratnya, ibu yang bersangkutan tak abai menerapkan protokol kesehatan.

Pakar nutrisi Unicef Indonesia, Sri W Sukotjo atau akrab disapa Ninik, mengatakan, berbagai studi menunjukkan, seorang ibu yang terkonfirmasi positif Covid-19 tetap aman menyusui karena virus SARS-CoV-2 tidak terdeteksi di dalam ASI dan bayi memiliki risiko rendah terkena infeksi virus itu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Unicef sejak Maret 2020 terus menggaungkan pentingnya menyusui pada masa pandemi termasuk pada para ibu yang terkena Covid-19. Di sisi lain, manfaat menyusui itu tergolong besar dibandingkan potensi risiko penularan antara lain mengurangi risiko kematian bayi secara signifikan.

"Jadi, sebetulnya tidak ada alasan untuk menghindari atau berhenti menyusui pada masa pandemi termasuk mereka yang terkonfirmasi positif," ujarnya dalam konferensi pers daring bertajuk "Perlindungan Menyusui Tanggung Jawab Bersama" yang digelar AIMI, Rabu(28/7).

Saat menyusui, ibu tetap harus menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker medis dengan tepat lalu menggantinya berkala, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menghindari memegang mata dan hidung, serta membersihkan dan mendisinfeksi permukaan benda yang sering disentuh ibu.

"Protokol ini hendaknya betul-betul harus dipatuhi saat menyusui," kata Ninik.

Namun, ada kondisi tertentu yang tidak memungkinkan ibu menyusui langsung anaknya, misalnya karena terlalu sakit selama perawatan Covid-19. Bila begini, dia bisa memerah ASI lalu memberikannya pada bayi. Ninik mennyebut, bila ibu sudah cukup sehat untuk menyusui, maka dipersilakan untuk langsung menyusui anaknya. 

Dia tak menyarankan ibu menunggu terlalu lama karena tidak ada interval waktu yang tetap untuk hal ini. Di sisi lain, ibu perlu mendapat dukungan dari tenaga kesehatan atau konselor menyusui yang mendampinginya sampai dia nyaman untuk menyusui lagi.

Terkait vaksinasi pada ibu menyusui, Ninik mengatakan, mereka termasuk kelompok yang bisa mendapatkan vaksinasi Covid-19 demi bisa melindungi diri dari paparan penyakit akibat infeksi virus SARS-CoV-2 itu. WHO sudah menyatakan ibu menyusui memungkinkan bisa mendapatkan semua jenis vaksin yang tersedia, misalnya Moderna, AstraZeneca, Sinovac, Pfizer. "Yang disuntikan itu bukan virus hidup, jadi secara biologis dan klinis tidak menimbulkan risiko bagi bayi yang menyusui. Berbagai studi di Eropa dan Amerika memperlihatkan antibodi ibu setelah vaksinasi dialirkan melalui ASI untuk memproteksi bayi," jelas Ninik.

Tetapi tentu saja sebelum diberikan vaksinasi, ibu harus menjalani pemeriksaan atau skrining kesehatan seperti suhu tubuh di bawah 37,5 derajat Celsius, tidak demam atau batuk selama tujuh hari terakhir, tidak kontak dengan pasien Covid-19 dalam waku 14 hari terakhir, tekanan darah di bawah 180/110 mmHg dan memenuhi syarat sesuai skrining riwayat kesehatan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA