Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Seorang Hamba Bisa Jauh Lebih Baik Setelah Bertaubat?

Selasa 27 Jul 2021 19:54 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Taubat menjadi titik balik seorang hamba keluar dari maksiat. Bertaubat. Ilustrasi

Taubat menjadi titik balik seorang hamba keluar dari maksiat. Bertaubat. Ilustrasi

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Taubat menjadi titik balik seorang hamba keluar dari maksiat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dosa bisa membuat seorang hamba jatuh ke titik terendah. Setiap kali dia melakukan kemaksiatan, maka dianggap telah turun satu derajat. Lantas, apa sesuatu yang bisa membuatnya kembali bangkit?

Dikutip dari Kitab Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa’ala ‘an Ad-Dawa’ As-Syafi, karya Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, bangkitnya seorang hamba ada pada ketaatannya. Ketika dia kembali taat, maka dia akan kembali naik. Dia bisa mencapai ketaatan seperti semula atau bahkan lebih tinggi, karena tingkat pertaubatan yang juga lebih tinggi.

Baca Juga

Namun, ada banyak perbedaan pendapat tentang apaakh setelah taubat, maka hamba itu kembali seperti semula. Ini didasarkan pada argumen bahwa taubat menghapus jejak dosa dan menjadikannya seolah-olah tidak ada, terhapus, karena taubat itu menghapus dosa.

Ibnu Taimiyah berpendapat, di antara orang-orang yang bertaubat, ada yang kembali ke derajat yang lebih tinggi. Beberapa dari mereka pun ada yang kembali ke posisi semula. Dan sebagian dari mereka lagi ada yang tidak mencapai derajat semula.

Maka, itu tergantung pada kekuatan dan kesempurnaan taubatnya. Hingga kemudian hamba tersebut bisa kembali ke derajat yang lebih tinggi dan menjadi lebih baik setelah taubat dari dosa-dosanya.

Pada akhirnya, bisa dikatakan bahwa mungkin dosa tersebut adalah rahmat baginya, bagi hamba yang sempurna dalam bertaubat. Dan Allah SWT adalah tempat untuk meminta ampunan.

إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا ۚ وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ ۚ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

"Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap, dan jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Allah. Sungguh, Dia Mahapenyantun, Mahapengampun." (QS Fatir 41)

Penutupan ayat tersebut menggunakan kata-kata "Mahapenyantun" dan "Mahapengampun". Ini menunjukkan ampunan dan kuasa Allah SWT yang sungguh begitu luas bagi para hamba-Nya bersungguh-sungguh bertaubat.

 

Sumber: islamweb 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA