Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Mengenal Angkat Besi dari Eko Yuli Irawan

Rabu 28 Jul 2021 00:10 WIB

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Muhammad Akbar

Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan melakukan angkatan snatch dalam kelas 61 kg Putra Grup A Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Ahad (25/7/2021). Eko Yuli berhasil mempersembahkan medali perak dengan total angkatan 302 kg.

Lifter Indonesia Eko Yuli Irawan melakukan angkatan snatch dalam kelas 61 kg Putra Grup A Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Ahad (25/7/2021). Eko Yuli berhasil mempersembahkan medali perak dengan total angkatan 302 kg.

Foto: ANTARA/Sigid Kurniawan
dalam olahraga angkat besi kedua jenis angkatan snatch, dan clean and jerk

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Konsistensi penampilan yang diperlihatkan Eko Yuli Irawan seakan melekat dibenak masyarakat Indonesia. Kali ini Eko kembali mengharumkan Merah Putih setelah meraih medali perak pada cabang olahraga (cabor) angkat besi Olimpiade Tokyo 2020.

Beraksi di Tokyo International Forum, Ahad (25/7) kemarin, Eko sukses mengalungkan medali perak pada kelas 61 kilogram putra. Anggota IOC sekaligus juga Menteri BUMN, Erick Thohir menyebut Eko Yuli Irawan sebagai seorang legenda (angkat besi).

Rasanya hal itu memang tak berlebih. Eko Yuli dalam perjalanan atletisnya kerap tampil memukau, berusaha pun bekerja keras untuk mempersembahkan tanda jasa bagi Merah Putih, Indonesia.

Medali perak dari Tanah Matahari Terbit, jadi koleksi keempat Eko Yuli untuk Ibu Pertiwi sejak Olimpiade Beijing, China 2008 silam. Ulasannya, atlet berusia 32 tahun menyabet medali perunggu di Beijing, dan London. Sebelum memperbaiki warna medalinya menjadi perak pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016, serta Tokyo 2020.

"Alhamdullillah bisa mendapatkan medali perak. Andai memungkinkan kelak saya ingin menjadi pelatih angkat besi, dan membuka klub angkat besi sendiri agar bisa melatih bakat muda untuk mengharumkan nama bangsa," kata Eko Yuli purna lomba.

Meski sosok Eko Yuli telah melegenda namun publik ternyata masih belum banyak memahami sejumlah istilah yang ada di dalam cabor angkat besi ini. Pemahaman ini tentunya diperlukan untuk mendorong para calon atlet muda untuk menjadi the Next Eko Yuli, setidaknya untuk bidang teknis dan nomor angkatan seperti snatch, serta clean and jerk.

Lazimnya, dalam olahraga angkat besi kedua jenis angkatan snatch, dan clean and jerk sering dilombakan pada ajang multi event, termaksud diantaranya di pentas Olimpiade.

Menukil laman resmi International Weightlifting Federation (IWF), Selasa (27/7) snacth merupakan angkatan langsung tanpa jeda atau bisa dianggap sebagai pengangkatan beban (barbel) yang terkontrol. Angkatan ini juga harus seimbang dari lantai ke posisi di atas kepala dalam satu gerakan.

Sebaliknya, clean and jerk mengharuskan atlet untuk mengangkat barbel dalam dua tahap. Analoginya, pertama atlet mengangkat beban dari lantai sampai batas dada dengan posisi jongkok.

Setelah jeda atlet disarankan mengambil ancang-ancang sebelum mengangkat barbel sampai kedua tangan tegak lurus di atas kepala dengan posisi berdiri sempurna selama beberapa detik hingga bel berbunyi.

Pada Olimpiade Tokyo 2020, secara keseluruhan Eko Yuli yang turun di kelas 61 kg putera, mencatat total angkatan 302 kg, yang terdiri dari snatch 137 kg, clean and jerk 165 kg. Sedangkan Li Fabin, lifter asal Cina yang meraih medali emas, mengangkat beban dengan total angkatan mencapai 313kg (141kg snatch dan 172kg clean and jerk).



Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA