Selasa 27 Jul 2021 08:39 WIB

Meteorit Berusia 4,6 Miliar Tahun Ditemukan di Inggris

Meteorit ini berasal dari sabuk asteroid dan terbentuk di awal Tata Surya.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Dwi Murdaningsih
Meteorit. Ilustrasi.
Meteorit. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Penduduk Loughborough, Inggris, yang juga seorang direktur astrokimia di East Anglian Astrophysical Research Organization (EAARO), menemukan meteorit di Gloucestershire pada Maret lalu. Berdasarkan penelitian, meteorit itu merupakan meteorit langka dari masa awal tata surya yang berusia 4,6 miliar tahun.

Bongkahan batu ini tidak tahan terhadap benturan keras dan panas hebat yang terlibat dalam penciptaan planet serta bulan di tata surya. "Sebaliknya, meteorit itu telah ada di luar sana, melewati Mars, tak tersentuh, sejak sebelum ada planet yang diciptakan," kata Shaun Fowler, seorang ahli mikroskop di Universitas Loughborough, dikutip Live Science, Senin (26/7).

Baca Juga

Dikatakan, batu luar angkasa itu adalah chondrite berkarbon, kategori langka yang hanya terdiri dari 4 hingga 5 persen dari meteorit yang ditemukan di Bumi. Meteorit ini, berasal dari sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter dan terbentuk di awal sejarah tata surya. 

Menariknya, batu itu kerap mengandung senyawa organik, atau pembawa karbon, termasuk asam amino yang membentuk blok bangunan dasar kehidupan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang apakah meteorit ini memiliki petunjuk bagaimana makhluk hidup pertama kali muncul di tata surya.

Batu tersebut memiliki bentuk kecil, berwarna arang dan rapuh, seperti bongkahan beton yang runtuh. Menurut Fowler, meteorit itu sebagian besar terbuat dari mineral seperti olivin dan phyllosilicates, serta butiran bulat yang disebut chondrules, yang sebagian besarnya merupakan manik-manik cair dan tergabung ke dalam asteroid saat pertama kali terbentuk.

"Tetapi komposisinya berbeda dengan apa pun yang Anda temukan di Bumi dan berpotensi tidak seperti meteorit lain yang kami temukan. Asteroid ini mungkin mengandung beberapa struktur kimia atau fisik yang sebelumnya tidak diketahui dan belum pernah terlihat dalam sampel meteorit lain yang tercatat," kata Fowler.

Untuk mempelajarinya, para peneliti di Loughborough University dan EAARO menggunakan mikroskop elektron untuk mempelajari permukaan meteorit hingga nanometer (sepersejuta meter), serta teknik yang disebut spektroskopi vibrasi dan difraksi sinar-X. Upaya itu, memungkinkan mereka mempelajari bahan kimia tersebut. 

"Pada tahap ini, kami telah belajar banyak tentang hal itu, tetapi kami baru saja menggores permukaannya," kata Sandie Dann, seorang ahli kimia di Universitas Loughborough, dalam pernyataannya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement