Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Saturday, 18 Safar 1443 / 25 September 2021

Melawan Israel di Pentas Olimpiade

Selasa 27 Jul 2021 00:01 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Muhammad Akbar

Seorang wanita dengan bendera Israel menghadiri rapat umum yang disebut solidaritas dengan Israel dan menentang antisemitisme di depan Gerbang Brandenburg di Berlin, Jerman, 20 Mei 2021.

Seorang wanita dengan bendera Israel menghadiri rapat umum yang disebut solidaritas dengan Israel dan menentang antisemitisme di depan Gerbang Brandenburg di Berlin, Jerman, 20 Mei 2021.

Foto: EPA/FILIP SINGER
Kami telah bekerja keras untuk masuk Olimpiade tapi masalah Palestina lebih besar

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Ada hal menarik dari gelaran Olimpiade Tokyo 2020 kali ini. Menariknya karena hal itu sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan aktifitas di lintasan olahraga. Sebaliknya, hal itu sesungguhnya lebih condong menjurus pada sentimen politik identitas secara global bernama Israel.  

Di era keterbukaan dan kebebasan bersikap, tentunya hal ini bukanlah hal yang harus ditabukan — bahkan sampai harus dicibir. Justru dengan semangat sportivitas olahraga, sikap yang ditunjukkan beberapa atlet dari sejumlah negara itu patut untuk disimak dengan kepala yang dingin.  

Kabar terbaru yang menarik perhatian itu datang dari atlet judo. Keduanya adalah Fethi Nourine, judoka asal Aljazair, dan Mohamed Abdalrasool asal Sudan. Keduanya memilih mundur ketika harus berhadapan dengan atlet judo asal Israel, Tohar Butbul.

Penolakan dari dua atlet judo untuk bertanding melawan negara zionis itu memiliki alasan kuat. Aksi penjajahan dan pendudukan wilayah yang dilakukan Israel kepada Palestina menjadi penyebabnya.

Keputusan Nourine untuk mundur ternyata mendapatkan dukungan dari pelatihnya Amar Benikhlef. Keduanya mundur karena enggan melawan negara yang telah menjajah Bumi Palestina.

''Kami telah bekerja keras untuk bisa masuk Olimpiade. Tapi masalah Palestina lebih besar dari ini semua,'' kata Nourine, dikutip dari DW, Senin (26/7).

Sementara Benikhlef merasa sangat tidak beruntung terhadap hasil undian pertandingan. Padahal timnya sangat menghindari berhadapan dengan atlet Israel. Bukan karena takut, tapi ia ingin menyampaikan protes atas aksi penjajahan yang sampai kini dilakukan oleh serdadu Israel.

''Kami mendapatkan lawan Israel dan itulah mengapa kami mundur. Kami memilih keputusan yang tepat,'' tegas Benikhlef.

Mundurnya Nourine membuat Abdalrasool secara otomatis berhadapan dengan Butbul. Namun pada saat pertandingan, Abdalrasool tidak kunjung muncul untuk menghadapi Butbul di divisi 73 kilogram. Padahal, sebelumnya Abdalrasool telah mempertimbangkan untuk tampil dalam babak 32 besar Olimpiade Tokyo tersebut.

Dikutip dari Japan Today, Yayasan Judo Internasional tidak segera mengumumkan alasan mengapa Abdalrasool tidak bertanding. Badan olahraga judo itu juga menolak untuk memberikan komentar. Ofisial Olimpiade Sudan melakukan pula hal serupa. Mereka semua memilih bungkam.

Setelah IJF melakukan investigasi, Nourine dan Benikhlef pun dipulangkan dari Olimpiade Tokyo dan diskor. Tapi keduanya merasa keputusan itu sesuai dengan filosofi Federasi Judo Internasional yang telah menerapkan kebijakan anti-diskriminasi dan mempromosikan solidaritas.

Selain dua joduka tadi, kejadian serupa juga sempat memberikan polemik pada gelaran Olimpiade Tokyo ini. Atlet dari negara lain seperti Mesir, Iran sempat juga menolak bertanding melawan atlet Israel. Saeid Mollaei jadi atlet Iran yang paling disorot. Sikapnya untuk menolak lawan atlet Israel itu ternyata berbuntut panjang. Mollaei dikabarkan sampai harus pindah ke Mongolia.

Ia mengaku takut nyawanya terancam jika kembali ke Iran. Mollaei akhirnya diberikan status pengungsi oleh Jerman, dan diizinkan bertanding di Olimpiade Tokyo di bawah bendera Mongolia oleh IOC sejak Maret 2020. Namun keputusan Mollaei itu justru dikecam oleh presiden federasi Judo Iran, Arash Miresmaeili.

Iran memang tidak mengakui hak Israel untuk eksis dan para atletnya diperintahkan untuk menghindari menghadapi oposisi Israel dalam kompetisi internasional.

''Ini bukan suatu kehormatan. Tetapi noda malu di dahi Anda yang akan tetap bersama Anda selamanya karena Anda telah berpaling dari cita-cita sistem, di tanah air Anda, dan bangga akan hal itu,'' kata Arash, kepada Mollaei, dikutip dari BBC.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA