Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Bahan Kimia dalam Produk Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Senin 26 Jul 2021 20:17 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Reiny Dwinanda

Setiap hari orang terpapar berbagai bahan kimia sintetis melalui produk yang mereka gunakan atau makanan yang dikonsumsi. Paparan tersebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Setiap hari orang terpapar berbagai bahan kimia sintetis melalui produk yang mereka gunakan atau makanan yang dikonsumsi. Paparan tersebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Foto: Pixabay
Risiko kanker payudara meningkat karena paparan bahan kimia dalam produk.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Bahan kimia umum, termasuk bahan dalam produk konsumen, pestisida, aditif makanan, dan kontaminan air minum, dapat menyebabkan sel-sel di jaringan payudara memproduksi lebih banyak hormon estrogen atau progesteron. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko kanker payudara. 

Temuan studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health Perspectives. Menurut peneliti, setiap hari orang terpapar berbagai bahan kimia sintetis melalui produk yang mereka gunakan atau makanan yang dikonsumsi. Penelitian tersebut telah menemukan efek buruk dari bahan kimia dan bagaimana mereka dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Baca Juga

"Hubungan antara estrogen dan progesteron dan kanker payudara sudah sangat jelas," kata rekan penulis Ruthann Rudel, seorang ahli toksikologi dan direktur penelitian di Silent Spring Institute, dikutip dari Times Now News, Senin (26/7).

Rudel menyebut, masyarakat harus sangat berhati-hati dengan bahan kimia dalam produk yang dapat meningkatkan kadar hormon estrogen atau progesteron dalam tubuh. Kejadian pada tahun 2002 dapat menjadi contoh kasusnya.

Ketika itu, studi Women's Health Initiative menemukan terapi kombinasi penggantian hormon dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Begitu para perempuan berhenti minum obat tersebut, tingkat kejadian kanker payudara pun turun.

"Tidak mengherankan, salah satu terapi paling umum untuk mengobati kanker payudara adalah kelas obat yang disebut inhibitor aromatase yang menurunkan kadar estrogen dalam tubuh. Ini merampas sel kanker payudara dari hormon yang mereka butuhkan untuk tumbuh," kata Rudel.

Untuk mengidentifikasi faktor risiko bahan kimia ini, Rudel dan Silent Spring Bethsaida Cardona menyisir data lebih dari 2.000 bahan kimia yang dirilis oleh program ToxCast Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA). Tujuan dari ToxCast adalah untuk meningkatkan kemampuan para ilmuwan untuk memprediksi apakah suatu bahan kimia akan berbahaya atau tidak. 

Program tersebut menggunakan teknologi penyaringan kimia otomatis untuk mengekspos sel hidup ke bahan kimia dan kemudian memeriksa berbagai perubahan biologis yang disebabkannya. Dilaporkan dalam jurnal Environmental Health Perspectives, Rudel dan Cardona mengidentifikasi 296 bahan kimia yang ditemukan untuk meningkatkan estradiol (suatu bentuk estrogen) atau progesteron dalam sel di laboratorium. 

Sebanyak 71 bahan kimia ditemukan meningkatkan kadar kedua hormon tersebut. Melalui penelitian itu ditemukan bahwa bahan kimia tersebut termasuk bahan dalam produk perawatan pribadi, seperti pewarna rambut, bahan kimia penghambat api dalam bahan bangunan dan perabotan, dan beberapa pestisida.

Para peneliti belum tahu bagaimana bahan kimia ini menyebabkan sel memproduksi lebih banyak hormon. Bisa jadi, bahan kimia tersebut bertindak sebagai aktivator aromatase, misalnya, yang akan menyebabkan tingkat estrogen yang lebih tinggi, menurut Cardona. 

"Apa yang kami ketahui adalah bahwa perempuan terpapar berbagai bahan kimia dari berbagai sumber setiap hari dan paparan ini bertambah," jelas Rudel.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA