Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Harga Meroket, Pemerintah Impor Tiga Jenis Obat Ini

Senin 26 Jul 2021 17:13 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Agus Yulianto

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Foto: Republika/Abdan Syakura
Obat-obatan ini akan datang secara bertahap sehingga pada Agustus pasokan sudah aman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebutuhan terhadap obat-obatan untuk terapi pasien Covid-19 semakin tinggi seiring dengan lonjakan kasus positif Covid-19. Namun, tak semua obat yang dibutuhkan pasien Covid-19 mampu diproduksi di dalam negeri.

Setidaknya terdapat tiga jenis obat yang pasokannya masih tergantung pada jumlah impor, yakni Remdesivir, Actemra, dan Gammaraas. “Ini adalah obat-obatan yang di seluruh dunia juga sedang short supply. Karena semua orang membutuhkan obat-obat ini,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (26/7).

Pemerintah pun rencananya akan mendatangkan 150 ribu Remdesivir pada Juli ini dan sebanyak 1,2 juta pada Agustus nanti. Saat ini, pemerintah juga tengah berupaya untuk memproduksi Remdesivir di dalam negeri.

Kemudian untuk mengamankan stok Actemra, pemerintah juga akan mendatangkan sebanyak 1.000 vial. Terbatasnya stok Actemra di Indonesia saat ini membuat harganya melambung tinggi, bahkan mencapai hingga ratusan juta. Padahal, kata Menkes, harga sebenarnya obat ini masih di bawah Rp 10 juta.

“Tapi Agustus kita akan mengimpor 138 ribu dari negara-negara yang mungkin teman-teman tidak membayangkan kita akan mengimpor dari negara-negara tersebut. Kita cari ke seluruh pelosok dunia mengenai Actemra ini,” ucap dia.

Sedangkan untuk Gammaraas, Menkes menyebut, sebanyak 26 ribu akan diimpor pada Juli ini dan sebanyak 27 ribu akan didatangkan pada Agustus nanti. Menkes mengatakan, obat-obatan ini akan datang secara bertahap sehingga pada Agustus nanti diharapkan pasokan di Tanah Air sudah membaik.

Kemenkes bekerja sama dengan GP Farmasi dalam proses pendistribusian obat-obatan ini ke sekitar 12 ribu apotek aktif di Indonesia.

“Diharapkan kita akan tingkatkan 9000 saja apotek yang bisa kita kasih obat-obatan ini secara konsisten supplynya itu akan menstabilkan supply obat di seluruh Indonesia,” tambah Menkes.

Menkes Budi pun mengingatkan, pembelian ketiga jenis obat ini harus menggunakan resep dokter dan hanya bisa disuntikkan di rumah sakit. Karena itu, ia meminta masyarakat agar menggunakan obat-obatan ini sesuai prosedur.

Menkes khawatir, masih banyak masyarakat yang justru menyimpan obat tersebut sebagai stok di rumah. Sebab itu, dia mengingatkan, agar masyarakat yang membutuhkan saja yang membeli obat-obatan ini.

“Bapak ibu kasian yang sakit, kalau kita sebagai orang sehat menyimpan obat, bayangkan 20 juta keluarga menengah pengen beli Azitromisin satu paket 5 tablet. Itu 100 juta obat akan tertarik dari apotek dan disimpan di rumah sebagai stok. Padahal, obat-obat ini harusnya dipakai sebagai resep untuk orang yang sakit,” kata dia.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA