Senin 26 Jul 2021 10:31 WIB

AS Tetap Lancarkan Serangan Udara Gempur Taliban

AS tetap mendukung pasukan Afghanistan melawan Taliban

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan
Foto: ap
Pasukan Amerika Serikat (AS) di Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Amerika Serikat (AS) akan terus melancarkan serangan udara untuk mendukung pasukan Afghanistan dalam menghadapi serangan dari Taliban. Setelah pasukan AS menarik diri dari Afghanistan, Taliban telah meningkatkan serangannya dalam beberapa pekan terakhir, dan merebut distrik pedesaan serta ibu kota provinsi sekitarnya.

"Amerika Serikat telah meningkatkan serangan udara untuk mendukung pasukan Afghanistan selama beberapa hari terakhir, dan kami siap untuk melanjutkan dukungan ini dalam beberapa minggu mendatang jika Taliban melanjutkan serangan mereka," ujar Komandan Komando Pusat AS Kenneth McKenzie.

Baca Juga

McKenzie menolak mengatakan apakah pasukan AS akan melanjutkan serangan udara setelah misi militer mereka berakhir pada 31 Agustus. Namun, dia mengatakan kemenangan Taliban tidak bisa dihindari dan solusi politik tetap menjadi kemungkinan.

"Pemerintah Afghanistan menghadapi ujian berat di hari-hari mendatang, Taliban berusaha menciptakan perasaan tak terhindarkan tentang kampanye mereka," kata McKenzie.

McKenzie mengatakan, kemungkinan akan ada peningkatan kekerasan oleh Taliban pekan ini. Dia  mengatakan Taliban akan fokus melakukan serangan pada pusat-pusat perkotaan.

"Mereka akan fokus dengan daerah perkotaan, jika mereka ingin mencoba dan merebut kembali kekuasaan. Saya tidak berpikir itu adalah kesimpulan yang pasti bahwa mereka akan dapat merebut daerah perkotaan ini," kata McKenzie.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada Sabtu mengatakan, tugas pertama pasukan keamanan Afghanistan adalah memastikan mereka dapat memperlambat momentum Taliban sebelum mencoba untuk merebut wilayah. Seorang pejabat AS mengatakan, militer Afghanistan merombak strategi perangnya melawan Taliban. Mereka memusatkan pasukan di sekitar daerah paling kritis seperti Kabul dan kota-kota lain, termasuk penyeberangan perbatasan dan infrastruktur vital. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement