Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Wafatnya 9 Aktivis dan Menafsir Data Covid-19 yang Aneh

Senin 26 Jul 2021 05:33 WIB

Red: Elba Damhuri

Denny JA

Denny JA

Foto: denny ja
Kenaikan kasus covid-19 justru terjadi ketika PPKM diperketat dan banyak orang WFH

Oleh : Denny JA, Kolumnis/Akademisi/Konsultan Politik

REPUBLIKA.CO.ID.

“Bang, ini daftar teman teman kita aktivis yang wafat kena Covid-19. Semuanya wafat di bulan Juni- Juli 2021, ketika puncaknya.”

“Setiap hari saya menangis.”

Teks ini saya dapat dari teman aktivis di Japri. Ia acap memberi kabar apa yang terjadi di dunia aktivis. Termasuk ketika Ia ingin memberi bantuan vitamin dan sembako untuk kawan kawan aktivis yang sedang kekurangan.

Saya baca nama aktivis dan kapan mereka wafat. Total sembilan orang:

- Juli Nugroho, wafat 21 Juni 2021

- Wiwik Sriwiasih, wafat 25 Juni 2021

- Chairilsyah, wafat 5 Juli 2021

- Dedy Mawardi, wafat 7 Juli 2021

- Joko Restu, wafat 10 Juli 2021

- Munif Laredo, wafat 10 Juli 2021

- Fahmi Harahap, wafat 10 Juli 2021

- Himawan Sutanto, wafat 12 Juli 2021

- Srie Mulyasari, wafat 17 Juli 2021

Saya kenal pribadi sebagian dari mereka. Terutama Juli Nugroho.

Bulan Mei 2019, ketika Ibu saya wafat, Juli Nugroho termasuk teman dekat yang mendampingi saya. Ia datang mulai dari rumah duka di Jakarta. Lalu Ia lanjut ke luar kota ke pemakaman San Diago, Karawang, Jawa Barat.

Masih terngiang, kata yang Juli ucapkan ketika Ia melihat saya menangis deras sekali melepas Ibunda tercinta. Nafas saya tersengal.

“Bro, Anda sudah beruntung. Anda sudah melakukan ekstra usaha untuk ibunda. Semua teman-teman Anda tahu. Kami bahkan cemburu dengan usaha Anda untuk Ibu. Ikhlaskan bro.”

Sungguh saya tak tahu ketika Juli Nugroho terkena Covid-19. Ia tinggal di kota lain.

Saya cek lagi WA di japri. Juli juga tak berkabar soal penyakitnya.

“Cepat sekali Juli itu wafat, Bung.” Itu saya peroleh dari teman lain. “Ia hanya kena 3-5 hari sebelumnya. Teman teman baru mau bergerak, eh Ia sudah wafat.”

Setelah Ibu saya wafat, beberapa kali Juli bertandang ke kantor. Kapanpun Ia ke Jakarta, Ia selalu sempatkan menjumpai saya.

Saya lihat lagi list itu. “Waduh. Banyak juga teman teman aktivis yang wafat. Semua di bulan Juni- Juli 2021.”

-000-

Saya pun membaca data Covid-19. Memang ada keanehan di sana. Keanehan data itu perlu ditafsir.

Tanggal 3 Juli 2021, Jawa-Bali menerapkan PPKM darurat. Ini istilah lain dari PSBB dan sejenis lock-down.

Diberitakan saat ini yang terpapar harian, kasus baru, covid-19 sebanyak 28 ribu orang. Disebutkan dalam berita itu. Jumlah ini adalah yang terbesar dalam sejarah pandemik di Indonesia. (1)

Lalu semua kita di Jawa Bali melakukan Working From Home 100 persen. Hanya pekerja usaha esensial yang boleh bekerja di luar rumah.

Apa yang terjadi kemudian? Sebelas hari setelah kita semua berdiam di rumah saja, data yang terpapar Covid-19, kasus baru harian, justru bertambah banyak.

Tanggal 14 Juli 2021, yang terpapar harian justru di atas 50 ribu orang. Indonesia sejak saat itu dianggap kasus harian saat itu yang tebesar di dunia. (2)

New York Times yang terbit tanggal 17 Juli membuat berita besar. “Pandemics Has New Epicenter: Indonesia.”

Bagaimana menafsir data aneh di atas? Ketika semua kita tinggal di rumah, 11 hari kemudian, yang tarpapar virus corona malah bertambah hampir dua kali lipat. Dari 28 ribu menuju 50 ribu per hari?

-000-

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA